Home / OPINI / Angka Lansia dan Terlantar di Situbondo Capai 3000 Orang

Angka Lansia dan Terlantar di Situbondo Capai 3000 Orang

Oleh: Sania Nabila Afifah
Komunitas Muslimah Rindu Jannah

Betapa tak teriris hati ini, ketika sosok tua renta terlantar tanpa riayah dari keluarga dan penguasa. Seharusnya masa-masa tua adalah masa dimana mereka akan menghadapi jurang kematian. Masa yang seharusnya dinikmati untuk lebih banyak beribadah kepada Allah. Tetapi fakta yang banyak terjadi di kalangan masyarakat malah sebaliknya. Sebagaimana data yang didapatkan oleh Dinas Sosial.

Dilansir dari Situbondo Antara News Jatim- Dinas sosial Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, mencatat jumlah warga  lanjud usia (lansia) yang tinggal sebatangkara dan terlantar mencapai sekitar 3000 orang.

“Oleh karena itu, tahun ini kami memiliki program pemberian makanan jadi kepada warga lansia tidak potensial dan terlantar, dan makanan jadi itu akan dibagikan setiap hari, “ujar Kepala Dinas Sosial, Luthfi Joko Prihatin di Situbondo.
Untuk pertama kalinya Dinas Sosial akan memberikan bantuan makanan bagi lansia tidak potensial dan terlantar, dan lansia tersebut adalah warga yang hidup sebatangkara dan hidupnya selama ini menggantungkan bantuan orang lain.

Luthfi menambahkan, pemberian bantuan makanan kepada warga lansia dan terlantar itu akan dimulai bulan April 2019, sebanyak 195 lansia tidak potensial akan menerima bantuan makanan setiap hari selama tiga bulan. Ia mengemukakan untuk tahap pertama Dinas sosial akan memberikan bantuan kepada 195  lansia yang tidak potensial yang tersebar di empat kelurahan  yakni di Kelurahan Dawuhan dan Patokan, Kecamatan Kota Situbondo, serta kelurahan Mimbaan dan Ardurejo, Kecamatan Panji.

Pemberian makanan yang bersifat sementara ini memang baru di fokuskan ke empat Kelurahan katanya. Karena menyesuaikan Anggaran yang tersedia dan selanjudnya bantuan akan dikembangkan ke daerah lain atau desa-desa lainnya.

Begitulah solusi yang diberikan kepada lansia oleh pemerintah untuk membantu para lansia yang kesannya hanya setengah hati, karena mereka (Lansia) hanya dibantu selama tiga bulan saja. Setelah itu dari mana lagi mereka dapatkan uluran tangan?. Sedangkan untuk pemenuhan kebutuhan jasmani seperti, makan, minum, tempat tinggal itu dibutuhkan setiap hari selama nyawa masih dibadan, harus terus dipenuhi jika tidak maka akan menyebabkan kelaparan hingga kematian.

Ya…seperti itulah potret buruk dalam pemberian bantuan dalam sistem saat ini semua dibatasi dengan waktu, juga pemetaan siapa saja yang sangat membutuhkan. Sebagaimana bantuan-bantuan lain yang menjadi program dari pemerintah seperti PKH, Raskin, Kis dan lainnya.

Semua bersifat sementara saja. Tak bisa mensolusi secara menyeluruh. Padahal semua masyarakat berhak mendapatkan bantuan yang sama. Secara adil dan merata.

Islam memiliki mekanisme terbaik untuk memenuhi kebutuhan rakyat per Individu. Sebab Islam mengatur kebutuhan mendasar seperti sandang, pangan, papan , bagi setiap individu. Serta jaminan kesehatan dan pendidikan diberikan secara cuma-cuma.

Semua dana yang dikeluarkan untuk memenuhi semua itu mengambil dari hasil pengelolaan sumber daya alam yang dimiliki oleh negara. Baik dari hasil tambang emas, perak, migas dan lainnya. Yang semuanya itu dikelola oleh negara dan hasilnya diberikan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan rakyat secara umum, baik dia muslim atau non muslim. Yang berada dalam naungan negara.

Jadi penguasa  dan para pejabat tidak perlu bingung memikirkan dana. Dan buat program apapun.

Sebenarnya Islam mengatur bahwa sebagai anak diwajibkan agar berbuat baik kepada kedua orang tua, selagi anak masih mampu menampung dan merawat kedua orang tuanya. Sehingga tak akan ada lansia yang terlantar tak diriayah anak-anaknya. Sebagaimana firman Allah didalam surat luqman 31 / ayat 14 yang berbunyi “ Dan kami perintahkan kepada manusia untuk (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya”.

Serta Nabi telah menjadikan bakti kepada orang tua lebih utama daripada berjihad di jalan Allah. Disebutkan dalam shahihaini dari ‘Abdullah bin mas’ud, ia berkata: “Aku bertanya kepada Nabi amalan apakah yang paling utama? “ Beliau menjawab , “shalat pada waktunya.” aku bertanya lagi: “kemudian apa lagi ? “ Beliau menjawab, “ Berbakti kepada kedua orang tua.”kemudian aku bertanya lagi? “kemudian apa lagi?” beliau menjawab , “ berjihad di jalan Allah.”

Ketika komponen dari keluarga memang tidak atau juga tidak mampu, maka tugas negaralah yang wajib memelihara urusan lansia, terkait dengan pemenuhan kebutuhan mendasar mereka. Sebab pemerintah wajib meriayah para lansia dan juga faqir miskin. Karena kelak dimintai pertanggung-jawabannya di yaumil kiyamah. Sebagaimana sabda nabi: “ Sesungguhnya Imam (kepala Negara) adalah pemimpin bagi rakyatnya yang akan dimintai pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya.”(HR Muslim)

Wa-Allahu a’lam bish-showab.

Check Also

Menyelisik Bahasa Inggris Sebagai Sebuah Isu Berkelanjutan di Indonesia

Oleh: Mega Fariziah Nur Humairoh, S.Pd., M.Pd. Sebagai orang Indonesia, tidak bisa dipungkiri bahwa bahasa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *