Home / OPINI / Menanti Aksi 212 Jember

Menanti Aksi 212 Jember

Oleh: Salim Umar BSA

Beberapa hari terakhir ini kita disuguhi berita tentang ribuan masyarakat Jember dari berbagai elemen yang akan bersatu mengadakan aksi pada 21 Februari 2018 mendatang. Tak hanya media mainstream, media sosial pun ramai membicarakan hal tersebut.

Aksi yang diinisiasi ulama dan tokoh masyarakat Jember itu muncul dari diskusi dalam pertemuan Forum Silaturahmi Tokoh dan Masyarakat Jember, di Pondok Pesantren Ash Shiddiqi Putri yang diasuh KH Saiful Ridjal, keponakan Tokoh NU KH Ahmad Shiddiq. Selain Gus Syef ada banyak Kyai, Habaib dan juga beberapa aktivis LSM.

Aksi ini berawal dari keprihatinan terhadap kondisi Jember yang selama dua tahun ini tidak ada kemajuan, tapi justru kemunduran. Faida dinilai gagal dalam memimpin Jember.

Tema dengan nama Aksi 212 ini memang mirip dengan nama aksi di Jakarta, bedanya jika di Jakarta terkait kasus penodaan agama, akan tetapi di Jember murni terkait kekecewaan masyarakat pada Bupati Faida.

Kekecewaan masyarakat boleh dikata sudah memuncak. Banyak persoalan yang dipicu kebijakan Bupati Faida. Seperti kasus pengabaian hasil pembahasan KUA-PPAS yang menyebabkan macetnya penetapan APBD 2018. Kasus GTT /PTT yang setahun tak menerima honor gara-gara SK tak ditandatangani Bupati. SILPA yang fantastis sehingga menyebabkan pembangunan tersendat.

Selain itu, yang dirasakan langsung Kyai dan guru ngaji adalah perlakuan pemerintah daerah saat ini terhadap kalangan pondok pesantren yang dinilai nihil. Juga tentang guru ngaji penerima insentif APBD sekarang berkurang drastis, dari 27 ribu menjadi sekitar 14 ribu. Pada pemerintahan sebelumnya, dalam satu musala, semua guru ngaji menerima insentif. Sekarang satu musala hanya satu guru ngaji yang menerima.

Menariknya lagi, puluhan pondok pesantren, ormas, pengusaha dan berbagai elemen masyarakat bahkan PNS banyak yang menyambut dan mengapresiasi rencana aksi tersebut. Mereka menyatakan siap turun ke jalan.

Ra Farid Mudjib, salah satu kiai asal Kecamatan Silo mengatakan, setidaknya 51 pondok pesantren atau sekitar 15 ribu massa siap bergabung dalam aksi tersebut. Jumlah itu masih akan terus bertambah. Melihat antusiasme masyarakat, dimungkinkan peserta aksi akan membludak.

Kapolres AKBP Kusworo Wibowo meminta, penyampaian pendapat dimuka umum yang dikenal dengan aksi 212 dapat berjalan tertib dan aman. Kapolres menghimbau massa aksi tetap waspada dan tidak mudah terprovokasi oleh oknum-oknum tertentu.

Penyampaian pendapat dimuka umum oleh masyarakat dilindungi Undang-Undang. Namun tentu saja dalam pelaksanaannya, semua pihak harus tetap menghormati hak-hak publik. Koordinator Aksi juga diminta terus melakukan komunikasi dengan massa yang dibawanya, agar tidak mudah terprovokasi oleh pihak luar untuk menghindari anarkisme dalam aksi tersebut.

Aksi massa 212 rencananya akan menggelar istighosah di depan Pemkab Jember dan kemudian menuju DPRD untuk mendesak dewan menggunakan hak konstitusinya.

Sejatinya tuntutan atau Isu yang akan diangkat dalam aksi massa harus terus di diskusikan. Penentuan isu sangat penting karena akan memberi batasan gerak secara keseluruhan proses aksi massa di lapangan. Perangkat aksi juga harus siap, dari koodinator aksi, juru bicara, logistik, dokumentasi hingga tim advokasi. Sehingga aksi massa akan berjalan tertib dalam rel yang telah disepakati bersama.

Masyarakat berharap aksi massa ini membuka mata pusat atas apa yang terjadi selama ini di Jember dan tentu saja menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat Jember.

Check Also

Menggugat Hari Jadi Jember

Oleh: Salim Umar BSA Beberapa kali saya menulis artikel tentang sejarah Jember. Ada ketertarikan yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *