Home / BERITA UTAMA / Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Melalui Konektivitas Destinasi Wisata

Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Melalui Konektivitas Destinasi Wisata

Membidik Peluang Emas dari Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018

Oleh: Hari Setiawan

Direktur Konten Indonesia

BANYUWANGI telah menyulap dirinya sebagai salah satu destinasi wisata utama di Indonesia. Bahkan, popularitas destinasi wisata di kabupaten ujung timur Pulau Jawa itu telah menyamai Kota Kinabalu, Malaysia.

Jumlah wisatawan domestik dan mancanegara yang berkunjung ke Banyuwangi mencapai 4,9 juta orang. Rata-rata pertumbuhan tingkat kunjungan wisatawan sejak 2012 sampai 2017 mencapai 75 persen. Asal negara wisatawan mancanegara didominasi Singapura yang mencapai 14 persen dari total sekitar 100 ribu wisatawan asing selama 2017.

Kajian dari Departemen Regional 2 Bank Indonesia (BI), rating Banyuwangi di situs perjalanan pariwisata Tripadvisor mencapai 4,5, dari rating maksimal 5. Sedangkan excellent rate di Tripadvisor mencapai 76 persen. Sampai 2023, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 243 ribu orang per tahun, dari sekarang 100 ribu orang per tahun. Banyuwangi juga menargetkan investasi di sektor pariwisata sampai 2023 nanti diharapkan bisa mencapai sedikitnya USD 28 juta.

Pemerintah Banyuwangi optimistis, semua target yang mereka canangkan bisa tercapai. Mengingat, mereka telah memiliki kalender event pariwisata tahunan yang bisa diakses sejak setahun sebelum pelaksanaan. Apalagi, konektivitas Banyuwangi dengan kota-kota lain semakin baik.

Selain moda kapal laut yang menghubungkan Banyuwangi dengan Pulau Bali serta kereta api, Bandara Banyuwangi terus berkembang. Saat ini ada tiga penerbangan Surabaya – Banyuwangi PP setiap hari dengan maskapai Garuda Indonesia dan Wings Air. Lalu, empat penerbangan langsung Jakarta Banyuwangi setiap hari dengan maskapai Nam Air (dua penerbangan), Garuda Indonesia (satu penerbangan), dan Citilink (satu penerbangan).

Semua itu tidak lepas dari komitmen Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas untuk mengembangkan pariwisata Banyuwangi. Kerjasama antara Banyuwangi dengan Pemerintah Provinsi Jatim dan pemerintah pusat terus dijalin untuk mendorong pariwisata Banyuwangi, khususnya dalam pengembangan destinasi, infrastruktur, dan promosi.

Membidik Peluang

Pemerintah RI akan mencatat sejarah baru tahun ini. Yakni, menjadi tuan rumah dari Pertemuan Tahunan IMF – Bank Dunia (IMF-World Bank Annual Meeting) 2018 di Bali. Acara ini akan dihadiri para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral dari 189 negara anggota IMF dan Bank Dunia, para investor, pelaku bisnis, anggota parlemen, komunitas perbankan, dan sebagainya. Total delegasi diperkirakan mencapai 15 ribu orang.

Ditunjuknya Indonesia sebagai tuan rumah menunjukkan bahwa negeri ini masih dipercaya dunia internasional. Karena itu, berkumpulnya belasan ribu pejabat keuangan dan perbankan dari seluruh dunia, pelaku bisnis, dan investor harus bisa dimanfaatkan untuk Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Pendek kata, Pertemuan Tahunan IMF – Bank Dunia 2018 harus menjadi sarana promosi bisnis, investasi, dan pariwisata Indonesia.

Pertemuan Tahunan IMF – Bank Dunia itu harus memberikan dampak ekonomi, khususnya bagi sektor pariwisata. Pariwisata adalah sektor ekonomi yang makin moncer di masa depan. Data Kementerian Pariwisata menyebutkan, kontribusi sektor pariwisata terhadap GDP pada 2017 mencapai 5,25 persen, dari tahun sebelumnya hanya 5 persen. Sumbangan devisa dari sektor pariwisata pada 2017 mencapai Rp 200 triliun. Bahkan, sumbangan devisa sektor pariwisata tahun ini diperkirakan akan melampaui ekspor CPO (minyak kelapa sawit).

Sepintas, kontribusi sektor pariwisata terhadap GDP terlihat kecil. Tetapi, sektor pariwisata membawa efek berantai untuk sektor ekonomi lainnya, seperti telekomunisi, transportasi, perdagangan, properti, dan sebagainya. BPS dan Nielsen hasil riset yang mirip bahwa tren manusia sekarang lebih banyak membelanjakan dananya untuk mendapatkan pengalaman baru daripada konsumsi makanan dan minuman.

Karena itu, Pertemuan Tahunan IMF – Bank Dunia 2018 harus menjadi momentum untuk mempromosikan berbagai destinasi utama pariwisata Indonesia. Para peserta pertemuan internasional itu harus tahu bahwa banyak destinasi wisata menarik di Indonesia, selain Bali. Dengan kata lain: Bali is Indonesia, but Indonesia not Only Bali.

Destinasi wisata di sekitar Bali seharusnya bisa mendapatkan efek positif dari pertemuan ini. Yang paling memungkinkan untuk disiapkan adalah Lombok dan Banyuwangi. Karena Lombok baru saja tertimpa gempa bumi, maka Banyuwangi harus siap menerima “limpahan” dari Bali. Apalagi, Banyuwangi memiliki destinasi wisata yang kaya, mulai wisata alam dan petualangan, budaya, serta atraksi yang menarik.

Dengan kata lain, Pertemuan Tahunan IMF – Bank Indonesia 2018 di Bali harus mendorong pemerataan destinasi wisata dengan mengedepankan sinergi pemasaran pariwisata. Ke depan, diharapkan agen perjalanan wisata harus bisa menjual paket wisata yang terintegrasi antardaerah. Misalnya, dari Bali, wisatawan mendapat paket ke Banyuwangi. Tentu, syaratnya kedua daerah harus memiliki konektivitas moda transportasi.

Upaya membangun konektivitas inilah yang menjadi pekerjaan pemerintah dalam jangka panjang. Konektivitas Bali dengan Banyuwangi tidak cukup hanya melalui darat dan laut, tetapi juga melalui udara. Tidak bisa tidak, harus ada penerbangan langsung dari Denpasar dan Banyuwangi pulang pergi. Hingga sekarang, penerbangan langsung dari Denpasar ke Banyuwangi dan sebaliknya belum ada.

Perlu Komitmen Pemerintah dan Masyarakat

Pertemuan Tahunan IMF – Bank Dunia 2018 di Bali tahun ini adalah kesempatan emas untuk mengembangkan pariwisata di Indonesia. Pemerintah harus cekatan mengelola momentum ini untuk mengambil kebijakan penting di sektor pariwisata. Secara waktu, kebijakan tersebut terbagi dalam dua tempo: jangka pendek dan panjang.

Dalam jangka pendek, ada beberapa kebijakan yang bisa diambil pemerintah. Pertama, memfasilitasi promosi destinasi utama pariwisata Indonesia. Terutama, yang sempat masuk dalam program “ 10 Bali Baru”. Ke-10 destinasi itu adalah Danau Toba (Sumut), Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Tanjung Lesung (Banten), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Borobudur (Jawa Tengah), Bromo Tengger Semeru (Jawa Timur), Mandalika (NTB), Labuan Bajo (NTT), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), dan Morotai (Maluku Utara).

Promosi destinasi wisata utama Indonesia itu bisa dilakukan dengan media sosial, terutama endorse para travel blogger yang memiliki banyak follower. Mereka diharapkan menjadi travel influencer pariwisata Indonesia. Sebab, survei menunjukkan, wisatawan banyak mengakses informasi pariwisata melalui internet. Maka, peran para travel blogger ini amat penting untuk mempromosikan pariwisata Indonesia. Promosi juga bisa dilakukan melalui leading travel review serta pemasangan LED promosi dan brosur di bandara-bandara.

Kedua, pemerintah menyiapkan destinasi wisata di sekitar Bali sebagai alternatif pilihan delegasi Pertemuan Tahunan IMF – Bank Dunia 2018 untuk berwisata. Sebagai tuan rumah, Bali sangat siap menerima para delegasi yang ingin berwisata. Tetapi, sebagian delegasi pasti ingin mendapatkan pengalaman baru di destinasi lain.

Lombok sebenarnya menjadi destinasi penyangga Bali. Selain lebih dekat dengan Bali, Lombok memiliki penerbangan langsung dari Bali. Bandar Udara Praya di Lombok pun berstatus internasional. Tetapi, Lombok baru saja tertimpa gempa. Secara etik dan estetik, kemungkinan belum siap untuk menerima delegasi internasional.

Karena itu, Banyuwangi bisa menjadi alternatif karena lebih dekat. Pemerintah tinggal memfasilitasi penerbangan khusus dari Denpasar ke Banyuwangi, mengingat Bandara Blimbingsari, Banyuwangi, sudah bisa didarati pesawat sejenis ATR, CRJ1000, Boeing 737, atau Airbus 320. Setidaknya penerbangan khusus itu dibuka usai pelaksanaan Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia 2018 untuk memfasilitasi para delegasi dunia yang ingin berwisata ke Banyuwangi, khususnya Kawah Ijen yang sudah terkenal di dunia.

Ketiga, pemerintah daerah bersama pemerintah pusat harus bersama-sama meningkatkan kapasitas destinasi wisata di sekitar Bali. Kapasitas tersebut meliputi, infrastruktur jalan menuju destinasi wisata, hotel atau home stay yang layak bagi wisatawan, memperbanyak wifi di berbagai area publik dan destinasi wisata, serta elektronifikasi pembayaran (payment) di destinasi wisata, hotel atau home stay, serta restoran. Dengan kata lain, perhelatan Pertemuan Tahunan IMF – Bank Dunia 2018 bisa menjadi sarana untuk sosialisasi Gerbang Pembayaran Nasional (GPN).

Dalam jangka panjang, pengembangan sektor pariwisata harus berjalan berkelanjutan. Karena itu, pemerintah harus memastikan upaya pengembangan destinasi wisata utama harus terus berjalan. Terutama, fokus di Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo. Dengan demikian, jangkar pariwisata Indonesia tersebar mulai ujung barat (Danau Toba), tengah (Borobudur dan Mandalika), serta timur (Labuan Bajo). Seraya, tidak meninggalkan upaya pengembangan destinasi wisata di berbagai tempat lainnya di Indonesia.

Yang tidak kalah penting pula adalah menyiapkan mind set dan mental masyarakat setempat untuk bisa melayani setiap wisatawan dengan baik. Masyarakat inilah yang akan merasakan dampak positif saat pariwisata di daerahnya berkembang. Wisatawan akan merasa nyaman atau tidak bergantung pada masyarakat setempat. Bila mind set dan mental masyarakat siap, investasi di bidang pariwisata akan masuk. Pada gilirannya, masyarakat akan menerima efek berantai yang positif.

Tatkala pemerintah mampu melakukan konektivitas dan pemerataan pengembangan destinasi wisata di Indonesia, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi diharapkan terus meningkat. (*)

Check Also

Tingkatkan Performa Atlet Basket, Polije bareng Perbasi Implementasikan Teknologi Sport Science

Jember- Di Indonesia, bola basket merupakan salah satu olah raga favorit untuk ditonton dan dimainkan. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *