Home / PENDIDIKAN / Polije Sosialisasikan Pengolahan Sorgum, Sebagai Upaya Diversifikasi Pangan Lokal

Polije Sosialisasikan Pengolahan Sorgum, Sebagai Upaya Diversifikasi Pangan Lokal

Jember- Politeknik Negeri Jember (POLIJE) melaksanakan kegiatan Sosialisasi Pengolahan Sorgum di desa Sumberjambe Kecamatan Sumberjambe Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur.  Sosialisasi ini diikuti oleh ibu – ibu kader PKK yang berasal dari lima dusun yaitu Krajan, Slangak, Pasar, Semek dan Gundang.

Kegiatan ini merupakan wujud dari salah satu Tridharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat. Tim pengabdian masyarakat pada kegiatan ini diketuai Jumiatun, SP, MSi, dengan anggota Irma Harlianingtyas, SSi, MSi dan Eva Rosdiana, SP, MP bersama mahasiswa program studi Teknlogi Produksi Tanaman Pangan yang saat ini sedang meneliti tanaman sorgum.

Jumiatun memaparkan, Sorgum merupakan tanaman serealia sebagai sumber karbohidrat yang memiliki kandungan serat dan protein lebih tinggi dibandingkan dengan jenis serealia lainnya seperti Padi, Gandum, Jagung dan Barley, namun pemanfaatannya sebagai bahan pangan masih cukup terbatas.

“Hal ini disebabkan sorgum memiliki kandungan tanin (senyawa anti nutrisi)  yang memberikan rasa “sepet” yang tidak disukai konsumen. Selain itu, keberadaan sorgum tidak banyak diketahui oleh masyarakat. Para ibu kader PKK baru mengenal tanaman sorgum pada saat sosialisasi,” ujar Jumiatun saat pertemuan pertama (1/10/2017).

Jumiatun selaku ketua tim pengabdian masyarakat mengatakan, bahwa potensi tanaman sorgum dapat dikembangkan mulai dari pemanfaatan lahan pekarangan, tegalan dan menjadi tanaman alternatif pada musim tanam ke III, dimana pada musim kemaraulah sorgum memiliki adaptasi yang tinggi yaitu tahan kekeringan serta berumur genjah.

Ia menjelaskan, Nilai tambah dari pemanfaatan tanaman sorgum adalah hampir semua bagian tanamannya dapat diolah menjadi bahan makanan. Batang sorgum dapat diolah menjadi sirup, gula cair ataupun gula kristal. Sedangkan biji sorgum dapat dimanfaatkan secara langsung ataupun tidak langsung (disosoh terlebih dahulu) untuk menghilangkan taninnya. Tanin dalam biji sorgum dapat dihilangkan secara manual yaitu dengan mencuci dan membilas biji sorgum kemudian dicelupkan kedalam air panas selama 15 menit atau dapat juga menumbuknya (untuk menghilangkan kulit ari yang mengandung tanin).

Biji sorgum hasil panen yang belum disosoh apabila sudah kering dapat diolah langsung menjadi “popped sorgum” olahan praktis yang tidak memerlukan biaya yang besar, hanya dibutuhkan minyak goreng, sedangkan biji sorgum yang sudah disosoh menghasilkan beras dan tepung sorgum. Tepung sorgum inilah yang nantinya akan menjadi subtitusi tepung terigu. Salah satu keunggulan tepung sorgum adalah bebas gluten (suatu jenis protein). Bahaya gluten jika dikonsumsi terus menerus adalah dimana gluten bisa menempel seperti lem di dalam usus, namun jika kita mengkonsumsi tepung sorgum justru membantu dalam melancarkan pencernaan. Hal inilah yang  bisa menjadi potensi sorgum untuk dikembangkan sehingga bisa mengurangi jumlah impor tepung terigu.

Antusias para ibu – ibu PKK dalam mengikuti kegiatan pengabdian ini dapat dilhat dari hasil kreativitasnya dalam mengolah makanan berbahan sorgum, pada (15/10/2017).

Sementara itu, Irma Halianingtyas menerangkan, adapun makanan hasil olahan ibu – ibu PKK adalah Brondong sorgum, cendol sorgum, kembang goyang sorgum, susu sorgum, kue cucur, lumpia sorgum, dadar sorgum, cookies sorgum, dodol sorgum, pastel, steak sorgum, kue lapis sorgum, nagasari sorgum, kue cetot sorgum, brownis coklat sorgum dan wajik sorgum. Dari berbagai jenis olahan sorgum tersebut 90% memiliki rasa sangat enak dan tekstur yang unik karena sorgum memiliki serat yang tinggi.

“Kreativitas ibu – ibu PKK Sumberjambe dalam penggolahan sorgum menjadi snack dan menu olahan lainnya diluar ekspektas tim karena mereka baru mengenal sorgum dan secara cepat mampu mengembangkan produk olahannya” papar Irma Halianingtyas.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Sanati dari dusun Slangak sebagai kader penggerak PKK. Sanati mengatakan bahwa ibu – ibu di Desa Sumberjambe berharap kegiatan pengabdian masyarakat ini bisa berlanjut karena mampu meningkatkan pengetahuan dan kreativitas masyarakat khususnya ibu – ibu PKK di desa Sumberjambe.

Pada saat penutupan kegiatan, Eva Rosdiana salah satu anggota tim pengabdian masyarakat berharap, semoga kegiatan sosialisasi ini, dapat bermanfaat dan mengarahkan produk – produk inovasi masyarakat berbasis sorgum sebagai upaya pengembangan pangan lokal, sehingga program pemerintah tentang diversifikasi pangan tidak hanya sekedar wacana tetapi dapat diterapkan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Teknologi pengolahan sorgum cukup sederhana, murah dan mudah baik oleh industri skala rumah tangga maupun industri kecil,” pungkas Eva Rosdiana.(red)

Check Also

Polije Berangkatkan Mahasiswa Student Exchange ke China

Jember- Kerjasama program Student Exchange dengan Jiangsu Agri-animal Husbandary Vocational College (JAHVC) China telah memasuki …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *