Home / BERITA UTAMA / RI 4.0: Peluang atau Ancaman Bagi Generasi?

RI 4.0: Peluang atau Ancaman Bagi Generasi?

Oleh : Puput Hariyani, S.Si*

Saat ini Indonesia sedang menapaki industry 4.0, yang ditandai dengan serba digitalisasi dan otomatisasi. Meski demikian belum semua elemen masyarakat menyadari konsekuensi logis atau dampak dari perubahan-perubahan yang ditimbulkan. Menurut Bambang Soesatyo, wakil ketua kadin Indonesia, kewajiban negara pula untuk menyiapkan generasi milenial menjadi angkatan kerja yang kompetitif dan produktif sepanjang era Industri 4.0 itu (Detiknews.com).

Turut merespon perubahan pada era industry 4.0, Kementrian Perindustrian sedang giat-giatnya mendorong peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) Indonesia agar menguasai teknologi digital. Salah satu cara yang dipilih adalah program vokasi SMK dan industry, serta memacu politeknik melalui rogram skill for competitiveness. Bahkan cara ini dinilai sangat ideal jika program peningkatan kompetensi SDM bisa masuk dalam kurikulum pendidikan sejak pendidikan dasar untuk menyiapkan generasi milenial yang kompetitif dan produktif.

Sebagaimana Kementrian Perindustrian, penuturan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo pun memberikan penuturan seirama, “potensi paling banyak di Jember dan Madura. Nanti akan dikembangkan lebih lanjut SMK Mini ini oleh Gubernur baru,” ungkapnya (Surya.co.id). Program vokasi akan ditumbuh kembangkan termasuk di Jember.

Gayung bersambut dengan program yang dicanangkan, Jember turut mempersiapkan RI 4.0 dalam dunia pendidikan. Diwakili oleh FKIP Universitas Jember menggelar The First International Conference On Natural Sciences and Mathematics Education (ICONSME) membahas kurikulum pendidikan di era RI 4.0.

Menurut pembicara pertama, Prof. Chun Yen Chang, pakar pendidikan asal National Taiwan Normal University (NTNU), kurikulum pendidikan yang mampu mengarahkan dan membentuk anak didik siap menghadapi era revolusi industry dengan penekanan pada bidang Sains, Technology, Engineering and Mathematic atau STEM (Unej.co.id).
Pertanyaan besarnya adalah, akankah keberadaan sekolah-sekolah vokasi di era RI 4.0 termasuk juga kurikulum pendidikan STEM ini mampu menjadi peluang atau justru menjadi ancaman bagi generasi milenial?

Dibalik Revolusi Industri 4.0
Revolusi Industri 4.0 bukan saja bicara tentang perubahan teknologi tetapi juga keharusan dunia mengikuti perubahan nilai-nilai sebagaimana yang diinginkan AS. Tentang hal ini Klaus Schwab, Pendiri dan Ketua Eksekutif Forum Ekonomi Dunia menyatakan, “Dunia harus memiliki pemahaman menyeluruh dan global mengenai bagaimana teknologi tersebut mengubah secara dramatis aspek social, ekonomi, ekologi dan kehidupan budaya. Bagaimana industry 4.0 mengubah sektor kesehatan, pendidikan dan banyak industry lainnya?”.

Pada gilirannya kecanggihan teknologi era RI 4.0 seperti Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence – IA) berupa robot pintar hingga mobil tanpa sopir dan mesin cerdas lainnya akan menimbulkan masalah serius, salah satunya adalah pengangguran. Hal ini dipaparkan Larry Elliott editor ekonomi “The Guardian” dua tahun lalu dalam tulisannya bertajuk Fourth Industrial Revolution brings promise and peril for humanity.

Ia mengomentari konsep Revolusi Industri keempat yang dibahas pada World Economic Forum di Davos termasuk bahaya otomatisasi di AS, menegaskan “Hanya mengambil satu contoh, mesin cerdas akan segera menggantikan semua jenis pekerja, mulai dari akuntan hingga pengantar pengiriman barang dan agen real estat hingga orang-orang yang menangani klaim asuransi motor rutin. Diperkirakan 47% pekerjaan AS beresiko dampak otomatisasi..” Di negara promotornya saja terancam dampak pengangguran massal.

Akankah kita mengikuti jejaknya?
Dari sini bisa ditarik benang merah, bahwasanya peningkatan kualitas SDM bagi generasi milenial dengan program vokasi melalui SMK tidak banyak berarti. Hal ini sangat terlihat dari focus pendidikan vokasional dan training atau pelatihan untuk menguasai IT. Menguasai IT dengan tingkat pendidikan vokasional di sekolah-sekolah menengah kejuruan, akan menjadikan SDM generasi milenial menjadi user pengguna bukan maker pembuat.

Alhasil, generasi milenial hanya akan menjadi buruh yang bekerja di raksasa-raksasa bisnis digital negara maju. Lebih mirisnya lagi dengan adanya mesin cerdas akan menggeser posisi mereka, sehingga daya serap angkatan kerja generasi muda akan minim. Ditambah krisis identitas generasi milenial hari ini sangat memungkinkan mereka terjerumus dalam nilai liberal yang mereka akses dari media digital.

Sudah menjadi rahasia umum, beragam konten liberal, serba permisif dan gaya hidup barat menjadi kiblat generasi milenial. Jika revolusi industry disetir oleh ideology kapitalisme-liberal, maka yang ada justru akan membahayakan dan mengancam potensi generasi.

Digitalisasi dan Generasi Milenial Dalam Islam
Pada dasarnya media digital adalah teknologi yang bersifat netral. Sebagai produk teknologi Barat yang merupakan “madaniyah”, dia memiliki potensi untuk digunakan dalam kebaikan ataupun kejahatan. Bisa juga digunakan untuk melakukan kemanfaatan atau bahkan menjatuhkan penggunanya dalam kerusakan. Artinya keberadaannya sangat bergantung pada ideology apa yang sedang digunakan. Media digital di dalam Islam jelas penggunaannya sesuai dengan ideology Islam atas landasan akidah Islam.

Pandangan Islam terhadap generasi juga sangat khas. Sebagai agama yang sempurna, Islam menempatkan generasi sebagai tonggak peradaban. Sehingga segenap perhatian diarahkan untuk mencetak mereka menjadi generasi bermental pemimpin bukan buruh atau pekerja. Begitupun teknologi digital disinergikan dengan pendidikan dan difungsikan dalam rangka menguatkan identitas dan karakter generasi muslim. Semua akan terwujud jika aturan Islam disinergiskan dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Sehingga penerapan Islam secara menyeluruh akan menebarkan kerahmatan bagi seluruh alam.

Dengan landasan akidah yang kokoh dan ditujukan untuk membentuk kepribadian Islam. Teknologi digital dimaksimalkan untuk memudahkan menuntut ilmu dan menjadi jalan untuk menyebarkan kebaikan. Dengan keahliannya generasi didorong untuk berkarya demi kemaslahatan umat manusia. Wallahu‘alam bi ash-showab.

*Pemerhati Remaja, Guru di Jember.

Check Also

Hanyut Lima Hari, Mayat Nahrowi Ditemukan

Jember-Sejak dikabarkan hanyut dan terseret arus sungai Sadengan lima hari yang lalu, mayat Nahrowi (35) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *