Home / OPINI / Sekolah BOK-EBOK Perkuat Pendidikan Karakter Anak

Sekolah BOK-EBOK Perkuat Pendidikan Karakter Anak

Oleh: Rifka Herliani

Anggota Intellectual Movement Community IAIN Jember

Sekolah Bok-Ebok telah terbukti mampu sukseskan pendidikan dalam hal penguatan karakter anak. Tak mengherankan jika Bok-ebok yang aktif mengikuti agendanya bukan sekedar ibu melainkan perempuan sebagai istri, ibu, dan masyarakat sosial yang memiliki empati tinggi mengabdi pada masyarakat.

Tiga peran tersebut bersinergi dalam jiwa dan aksi Bok-Ebok sehingga dengan kemampuannya Bok-ebok memiliki peluang terbesar untuk menyelamatkan anak bangsa. Ibarat syair lagu “bagai sang surya menyinari dunia” memiliki makna luas dengan kehebatannya memberikan penerangan bagi anak-anaknya.

Praksisnya, Bok-ebok berusaha melakukan dari hal-hal terkecil untuk meraup harapan-harapan terbesar. Dengan modal strategi yang boleh dikata cukup sederhana, Bok-Ebok menjadi pelopor atau aktivis di masyarakat dalam hal penguatan pendidikan karakter anak. Strategi-strategi tersebut merupakan wujud sosial dari ilmu yang diperoleh selama mengikuti sekolah Bok-ebok.

Sekolah Bok-ebok didirikan pada tahun 2016 di Tanoker Ledokombo lantaran banyaknya anak Ledokombo yang kurang mendapat perhatian dari orangtuanya sebagai buruh migran, sehingga timbul keinginan untuk menumbuhkan kesadaran para ibu agar memiliki pola asuh yang baik terhadap anak sendiri, anak saudara dan tetangga. Keinginan tersebut dituangkan dengan memberikan pembekalan berupa materi-materi dasar seperti identitas, gender, makanan sehat, bersih lingkungan, pengasuhan anak, pengasuhan kolaboratif parenting, dan sekolah muslimatan dalam 10x pertemuan.

Dalam dua tahun ini, sekolah Bok-ebok sudah melebarkan sayapnya pada tiga titik yaitu dua titik di desa Sumber Salak dan satu titik di desa Sumber Agung. Menariknya dalam interview yang saya lakukan kepada Bu Maisi, Bu Laila, Bu Ita, dan Bu Munawaroh sebagai peserta sekolah Bok-ebok di Sumber Agung-Ledokombo, keempatnya memberikan kesimpulan bahwa sekolah Bok-ebok memberikan pengaruh yang sangat baik kepada keluarga dan masyarakatnya.

Contohnya saja dalam materi identitas dan gender, kolaborasi kedua materi tersebut memberikan kesadaran kepada ibu-ibu tentang siapa diri mereka? Apa kebutuhan hidup mereka? Bagaimana peran mereka? Hingga pada bagaimana perbedaan dan kesamaan mereka sebagai perempuan dengan suaminya secara kodrati (seks) dan kesetaraan peran (gender) sehingga mereka tetap mampu membangun keharmonisan keluarga di tengah perbedaan.

Pada materi makanan sehat, memberikan pemahaman kepada mereka tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi agar kesehatan tetap terjaga. Karena kesehatan fisik akan menentukan perilaku seorang anak. Pada materi bersih lingkungan, memberikan pemahaman tentang pentingnya lingkungan yang bersih dan sehat bagi kehidupan dan keberlangsungan hidup anak-anaknya. Pada materi pengasuhan anak, sebelum ibu-ibu diajarkan cara mendidik anak dari hal terkecil, terlebih dahulu diajarkan tentang bagaimana adab yang baik kepada suami dalam sehari-hari agar menjadi contoh yang baik untuk anak.

Contoh sederhananya, ibu-ibu dituntut untuk membiasakan mengucapkan “minta tolong” jika memerintah, dan “terimakasih” jika selesai memerintah anaknya. Juga melarang anak sering bermain gadget. Pada materi pengasuhan kolaboratif parenting, memberikan pemahaman tentang dampak perilaku anak yang kurang mendapatkan perhatian akibat orangtuanya menjadi buruh migran serta membangun empati pada ibu-ibu agar memberikan perlindungan hingga pola asuh yang baik. Dengan sumringah, upaya ini ditanggapi Bu Munawaroh sebagai usaha tanggungjawab bersama membantu RT/RW dalam melindungi anak-anak sebagai generasi bangsa agar terhindar dari perbuatan senonoh. Sekolah muslimatan dilaksanakan untuk membangun dan menumbuhkembangkan jiwa spiritualitas dan religiusitas ibu-ibu selaku madrasah pertama bagi anak-anaknya dan makhluk sosial bagi tetangganya.

Bagi kebanyakan orang, mungkin strategi-strategi yang diajarkan tersebut nampak sederhana dan sedikit memberikan pengaruh dalam menyelamatkan anak bangsa. Tapi tidak bagi Bok-ebok yang lebih utama belajar dan mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena mereka berhasil menjadi pelopor yang menyelamatkan anak dari perbutan-perbuatan yang amoral. Dengan materi pengasuhan anak, Bu Laila sebagai ketua di sekolah Bok-ebok berhasil mendidik anaknya dengan membiasakan berperilaku baik dari hal-hal terkecil hingga mengubah perilaku anaknya yang semula sering minum minuman keras menjadi anti miras.

Dengan materi identitas dan gender, Bu Munawaroh berhasil bekerjasama dengan suaminya mendidik anak berperilaku sopan santun. Nampak adanya perubahan dari semula sering berkata kasar menjadi anak yang lemah lembut dan patuh. Dengan materi pengasuhan kolaboratif parenting, Bu Munawaroh juga salah satu peserta yang selalu menyampaikan materi kepada teman-temannya yang sibuk bekerja saat musim panen sehingga menghalangi mereka untuk menghadiri sekolah Bok-ebok. Juga keberhasilannya nampak pada berkurangnya pemuda-pemuda desa Sumber Agung yang menyalahgunakan narkoba dan sejenisnya. Perlu diketahui, sejatinya upaya-upaya tersebut senada dengan menjadikan anak menjadi manusia unggul.

Manusia unggul adalah mereka yang sistem limbik dalamnya tidak mengalami gangguan sehingga kondisi emosi dan persepsi mereka tidak berada dalam kondisi yang negatif. Sistem limbik adalah satu set struktur di otak yang mengontrol emosi, kenangan, dan gairah. Beberapa strategi tersebut juga merupakan bagian praksis dari neurosains sebagai studi yang mempelajari otak dan perangkatnya.

Dalam tinjauan neurosains tersebut diajarkan cara merawat otak sehat dengan memenuhi aspek fisik, materiil, dan biologisnya. Otak sehat akan melahirkan jiwa yang sehat pula. Sehingga anak akan terhindar dari problem-problem sosial yang dapat menjerumuskannya kepada hal negatif. Bukannya itu yang diinginkan oleh orangtua? Praksisnya, dengan bekal pemahaman materi yang cukup ibu harus menjadi peran sentral dalam mendidik anak. Bukan maksud pelabelan antara ayah dan ibu, tapi pada dasarnya senada dengan ungkapan Henry Ward Beecher, “Hati seorang ibu ialah ruang kelas tempat anaknya belajar” yang bermakna ibu memiliki peran utama dalam memberikan pembelajaran pada anak dari hal sopan santun hingga menyikapi kehidupan. Selepas itu ayah juga akan menjadi pemimpin yang senantiasa melindungi anak-anaknya dan istrinya.

Keterkaitannya dengan saat ini, strategi-strategi yang diterapkan Bok-ebok benar-benar menjadi rahasia sukses mendidik anak di era milenial dan akan memberikan sumbangsih besar bagi inovasi program penyelenggaraan pendidikan bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Untuk itu perlu adanya sinergitas antara orangtua, masyarakat, dan lembaga pendidikan. Orangtua dan lembaga pendidikan dapat membentuk kelas khusus seperti sekolah Bok-ebok yang diagendakan secara periodik. Agenda tersebut juga harus bersifat nasional, sehingga perlu kiranya merumuskan kurikulum terpadu hingga memenuhi fasilitas, sarana prasarana, dan materi-materi pokok demi tercapainya harapan nasional pendidikan.

Satu yang tak kalah pentingnya, bahwa psikologi orangtua dan anak-anak berbeda, sehingga membutuhkan pendekatan emosional yang berbeda pula. Selain itu, yang perlu diperhatikan tentang pemetaan waktu yang tepat. Karena di era milenial juga banyak ibu-ibu yang menggeluti bidang karir sehingga jadwalnya lebih padat dari ibu-ibu rumah tangga.

Check Also

Menggugat Hari Jadi Jember

Oleh: Salim Umar BSA Beberapa kali saya menulis artikel tentang sejarah Jember. Ada ketertarikan yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *