Home / BERITA UTAMA / Bangun Ekosistem Digital; Inovasi Perusahaan Pembiayaan di Era Industri 4.0

Bangun Ekosistem Digital; Inovasi Perusahaan Pembiayaan di Era Industri 4.0

Oleh: Hari Setiawan

TEKNOLOGI yang berkembang pesat menyebabkan business model baru bermunculan. Business model yang tidak lagi konvensional karena berbasis teknologi. Gelombang disrupsi melanda seluruh dunia. Menyapu semua bisnis.
Semua bisnis seakan kehilangan relevansinya. Perusahaan start up bermunculan. Menebar “ancaman” bagi perusahaan-perusahaan raksasa lama. Tak sedikit para pendatang baru itu merobohkan dominasi perusahaan lama.

Perusahaan-perusahaan ini rerata dirintis orang-orang muda dan mampu memobilisasi sumber daya eksternal untuk kepentingan bisnisnya. Di era connected society, bisnis tidak harus memiliki semuanya. Yang diperlukan cukup memahami cara berpikir dan bertindak untuk mengorkestrasi semua sumber daya itu untuk kepentingan bisnisnya.

Tidak terkecuali. Gelombang disrupsi juga melanda sektor keuangan. Ratusan perusahaan teknologi finansial (tekfin) menjadi pemain-pemain baru di sektor keuangan. Mereka menawarkan beragam alternatif layanan yang memberi kecepatan dan pelayanan.

Perusahaan tekfin beragam pula jenisnya. Di Indonesia, perusahaan tekfin terbagi dalam beberapa kelompok. Pertama, tekfin di bidang crowd funding atau peer to peer lending. Ini adalah tekfin yang mempertemukan pemilik dana dan peminjam dalam sebuah aplikasi.
Kedua, tekfin di bidang payment, clearing, dan settlement. Kelompok ini adalah perusahaan tekfin yang menyediakan aplikasi pembayaran berbasis perbankan atau nonbank. Ketiga, tekfin di bidang e-wallet. Dengan e-wallet, memungkinkan siapa pun menyimpan dananya dalam aplikasi dan bisa dipergunakan untuk transaksi pembayaran barang dan jasa.
Keempat, tekfin di bidang market aggregator. Tekfin ini menyediakan berbagai informasi produk keuangan. Masyarakat cukup memasukkan informasi keuangannya, lalu aplikasi akan mengolah data tersebut dan merekomendasikan ke beberapa alternatif produk keuangan yang relevan. Kelima, tekfin di bidang manajemen risiko dan investasi. Tekfin ini membantu seseorang untuk menganalisis risiko dari setiap rencana investasi. Keenam, tekfin di bidang financing. Tekfin ini menawarkan berbagai layanan pembiayaan barang dan jasa melalui aplikasi dari berbagai vendor penyedia barang dan jasa.

Khusus bidang pembiayaan, bisnis ini masih sangat prospektif untuk berkembang di era digital. Meski industri multi finance pada semester I/2019 mengalami sedikit perlambatan, sektor ini di semester II masih memungkinkan bertumbuh. Mengutip laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) semester I/2019, piutang perusahaan pembiayaan masih tumbuh 4,29 persen (yoy). Rasio pembiayaan bermasalah juga terkendali di angka 2,82 persen. Apalagi, Bank Indonesia (BI) pada Juli 2019 telah menurunkan suku bunga acuan ke 5,25 persen (Bisnis.com, Juli 2019).

Dengan berbagai indikator tersebut, perusahaan pembiayaan yang sudah eksisting di Indonesia tidak punya alasan untuk tidak bertumbuh. Hanya, manajemen masing-masing perusahaan pembiayaan perlu mencermati perubahan lingkungan eksternal mereka dalam menganalisis peluang dan ancaman. Karena, peluang dan ancaman sejatinya hadir seiring sejalan.

Pentingnya Inovasi di Era Digital
Menghadapi gelombang disrupsi di dunia bisnis, perusahaan pembiayaan harus peka dengan perubahan di sekelilingnya. Di era connected society, gelombang mobilisasi sumber daya tidak terhindarkan. Bisnis tidak harus menguasai semua sumber daya. Perusahaan cukup melakukan orkestrasi sumber-sumber daya itu.

Tagar-tagar (#) di media sosial bermunculan untuk menciptakan sesuatu yang hype. Di dalamnya bisa saja terselip rencana untuk mengambil keuntungan bisnis. Atau, malah menjatuhkan kompetitor. Tetapi, banyak perusahaan tidak menyadari gelombang perubahan ini.

Saat ini, menurut Rhenald Kasali (2019), super apps telah merambah ke semua lini. Sektor media, transportasi, keuangan, kesehatan, pertanian, dan pertahanan mulai berpindah ke platform dan diorkestrasi oleh sebuah super apps. Dampaknya, business model baru bermunculan. Hadirlah fenomena the main is no longer the main. Sumber pendapatan utama tidak bisa lagi menjadi sandaran.

Gelombang mobilisasi dan orkestrasi sebagai wujud revolusi industri 4.0 ini tidak terjadi begitu saja. Manusia dengan manusia, manusia dengan benda, terhubung oleh enam pilar teknologi. Yakni, cloud computing, big data analytics, artificial intelligence, super apps, broadband infrastructure, dan internet of things.

Mau tidak mau, perusahaan pembiayaan harus memperkuat basis teknologi jika ingin eksis di era digital. Tapi, itu saja tidak cukup. Perusahaan pembiayaan harus menciptakan inovasi pelayanan dan produk. Sebab, perusahaan tekfin telah menawarkan kemudahan dan kecepatan bagi pelanggannya. Dalam hitungan menit, pelanggan mendapat keputusan apakah pengajuan pembiayaannya disetujui atau tidak.

Salah satu perusahaan pembiayaan yang telah mengokohkan kemudahan dan kecepatan layanan adalah Home Credit. Sejak diluncurkan kali pertama pada April 2017, mobile Home Credit telah diunduh 3,6 juta kali (Kontan.co.id, Januari 2019). Dalam rencana bisnis tahun ini, Home Credit berkomitmen bisa memberi keputusan pembiayaan melalui aplikasi dalam waktu 3 menit, dari sebelumnya 30 menit. Bahkan, ada yang pernah cukup 1,6 menit saja.
Tahun 2019 ini Home Credit mematok target 100 ribu aplikasi pembiayaan setiap bulan. Pembiayaan 2019 ditargetkan naik 40 persen menjadi Rp 14 triliun. Selama ini, Home Credit menawarkan pembiayaan perabot rumah tangga, gadget, busana, kendaraan roda dua, dan renovasi rumah. Untuk mencapai target tersebut, saatnya Home Credit berinovasi menawarkan pembiayaan produk yang banyak diminati generasi menengah milenial yang jumlahnya terus membesar.

Inovasi yang layak dipilih adalah pembiayaan perjalanan wisata. Mengapa?
Pertama, pariwisata akan menjadi sektor yang menjanjikan di masa depan. Sektor ini tidak mengenal krisis. Dominasi masa depan yang dihuni para generasi milenial membuat pariwisata menjadi sektor andalan di banyak negara.

ThinkDigital.Travel, lembaga think thank turisme, menyebutkan, generasi milenial merupakan kelompok yang menganggap dirinya memiliki hak melakukan perjalanan atau traveling. Tidak heran, generasi milenial ini menjadi salah satu pilar dari industri turisme modern.

Hasil penelitian lembaga riset industri pariwisata Phocuswright menegaskan, generasi milenial merupakan kelompok yang paling sering melakukan perjalanan di antara kelompok umur lainnya. Mereka diperkirakan secara bertahap akan menghabiskan lebih banyak dana untuk layanan wisata dibandingkan dengan kelompok usia lainnya selama 12 bulan ke depan. Kedua, riset Rumah123, mengungkapkan, generasi milenial lebih memilih melancong daripada membeli rumah. Pengalaman hidup menjadi intangible assets yang tidak kalah penting daripada rumah atau properti lainnya.
Ketiga, bagi Indonesia, sektor pariwisata terus mengalami pertumbuhan yang positif. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (2018) menyebutkan, neraca pembayaran sektor pariwisata mengalami surplus sejak 2011. Mengutip data World Tourism Organization, belanja wisata mancanegara di dalam negeri mencapai USD 12,5 miliar. Sedangkan belanja wisatawan domestik, berdasar data BPS pada 2015, mencapai Rp 224,6 triliun. Ini semua potensi untuk menambah devisa negara. Keempat, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar) saat ini tengah mendorong pariwisata digital. Sebab, 70 persen pelancong mencari dan menyusun rencana perjalanan serta reservasi transportasi dan akomodasi melalui internet dan aplikasi. Bahkan, pemerintah telah menyusun road map pariwisata digital untuk memenangkan persaingan pariwisata di era industri 4.0.

Transformasi Bisnis Pembiayaan Berbasis Platform

Sampai di titik ini, jelas bahwa produk perjalanan wisata memiliki prospek cerah bagi bisnis pembiayaan. Seiring berkembangnya teknologi digital, secara bertahap perusahaan pembiayaan bisa bertransformasi menjadi perusahaan berbasis platform. Dengan membangun platform, perusahaan pembiayaan cukup mengendalikan sumber daya tenaga kerja dan sistem informasi.

Memanfaatkan platform yang dibangun, perusahaan pembiayaan bisa menjalin kerjasama dengan berbagai vendor penyedia jasa perjalanan wisata. Dalam inovasi pembiayaan perjalanan wisata, jejaring bisa dibangun bersama maskapai penerbangan, operator moda transportasi, pengelola destinasi wisata, hotel dan restoran, maupun pusat-pusat perbelanjaan.

Ada beberapa alasan mengapa perusahaan pembiayaan perlu bertransformasi menjadi perusahaan berbasis platform. Pertama, era 1960-an sampai 1990-an, Top 50 Companies didominasi oleh perusahaan-perusahaan dari sektor pengolah sumber daya alam dan otomotif. Namun, mulai 2000-an beberapa perusahaan berbasis platform dan teknologi berhasil masuk jajaran 50 perusahaan top dunia (Fortune.com, 2019).

Kedua, dengan berbasis platform, perusahaan pembiayaan bisa membangun interaksi lebih intens dengan pelanggan dan vendor. Melalui apps yang dimiliki, perusahaan pembiayaan bisa mengorkestrasi berbagai maskapai, penyedia kendaraan sewa, pengelola destinasi wisata, ribuan hotel dan restoran, serta berbagai pusat perbelanjaan.

Berkumpulnya mereka dalam satu platform inilah yang memungkinkan valuasi bisnis perusahaan pembiayaan melesat karena network effect. Selain, tentunya mendapat revenue dari transaksi yang ada.
Ketiga, dengan memanfaatkan artificial intelligence, melalui platform itu perusahaan pembiayaan bisa membaca perilaku pelanggan dan perubahannya. Dengan demikian, manajemen mendapat pasokan informasi akurat mengenai tren apa yang diminati dan apa yang mulai ditinggalkan pelanggannya. Semua perubahan perilaku pelanggan penting diketahui sebagai bahan pengambilan keputusan bisnis.
Keempat, saat perusahaan pembiayaan membangun platform, esensinya adalah ia tengah mengembangkan ekosistem digital.

Ekosistem digital penting dibangun karena perilaku pelanggan di semua bisnis hari ini telah berubah. Dengan mengembangkan ekosistem digital, perusahaan pembiayaan sejatinya tengah menciptakan sumber pendapatan baru, merasionalisasi biaya menjadi lebih ramping, dan mempercepat adopsi teknologi.

Pendapatan baru menjadi terbuka karena pelaku di industri pariwisata sangat banyak jumlahnya. Mulai dari maskapai penerbangan, operator transportasi, hotel, restoran, pusat perbelanjaan, pengelola destinasi wisata, dan pengelola gedung konferensi. Jumlah mereka ribuan vendor. Platform juga menciptakan ruang efisiensi dari sisi tenaga kerja dan operasi bisnis. Demikian pula adposi teknologi menjadi terbangun saat hendak menciptakan inovasi layanan dan produk. (*)

*) Penulis adalah redaktur pelaksana jemperpost.net

Check Also

Kontingen NPCI Jember Raih Dua Medali Emas dan Perak

Surabaya- Paralympian (atlit difabel) yang tergabung dalam Kontingen National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Jember berhasil …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *