Home / BERITA UTAMA / BI Jember : Pertumbuhan Perbankan Melambat

BI Jember : Pertumbuhan Perbankan Melambat

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jember Achmad Bunyamin

Jember- Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jember Achmad Bunyamin kepada sejumlah wartawan, mengungkapkan melambatnya pertumbuhan Perbankan pada triwulan II tahun 2017 di wilayah Eks Karesidenan Besuki dan Lumajang (Sekarkijang). Hal tersebut disampaikan di ruang kerjanya.

       “Aset perbankan ‘Sekarkijang’ pada triwulan II tahun 2017 tercatat sebesar Rp32,10 triliun, tumbuh melambat dibandingkan triwulan I/2017 yakni 12,48 persen dengan nominal Rp3,56 triliun berbanding 13,78 persen (nominal 3,69 triliun),” katanya.

Menurutnya pertumbuhan tersebut didukung oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dan kewajiban antarkantor (nett) sebesar 9,01 persen dengan nominal Rp1,97 triliun dan 32,75 persen dengan nominal Rp0,63 triliun.

       “Secara bulanan (month to month), aset perbankan tumbuh sebesar 1,61 persen dengan nominal Rp0,51 triliun dari Rp23,61 triliun menjadi Rp23,89 triliun,” tuturnya.

Ia mengatakan peningkatan DPK utamanya dikontribusikan oleh kinerja Kantor Cabang Bank Persero yang tumbuh 6,90 persen (Rp 816,06 miliar), sementara pendanaan Kantor Cabang BPD mengalami penurunan signifikan yaitu sebesar 18,20 persen (Rp 811,18 miliar) akibat penarikan dana pemerintah kabupaten di akhir triwulan II/2017.

       “Dilihat per wilayah, penyumbang peningkatan DPK terbesar berasal dari Jember (Rp 339,51 miliar), diikuti Situbondo (Rp 74,35 miliar), sedangkan DPK di Banyuwangi, Bondowoso dan Lumajang mengalami penurunan kisaran Rp 30-60 miliar,” katanya.

Untuk penyaluran kredit, lanjut dia, juga tumbuh melambat dengan jumlah kredit perbankan wilayah “Sekarkijang” yang meliputi Kabupaten Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, dan Lumajang tercatat sebesar Rp 26,17 triliun.

       “Sama seperti DPK, ekspansi kredit pada triwulan II/2017 tumbuh melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yakni sebesar 10,80 persen (Rp2,55 triliun) berbanding 13,06 persen (Rp2,94 triliun).

       Sedangkan secara bulanan, kredit tumbuh sebesar 1,33 persen (Rp342,79 miliar). Kalau dilihat per wilayah (mtm), kredit di seluruh kabupaten Sekarkijang tumbuh positif, dengan pertumbuhan tertinggi pada wilayah Jember (Rp129,04 miliar), diikuti Lumajang (Rp78,29 miliar) dan Banyuwangi (Rp60,77 miliar), Situbondo dan Bondowoso tumbuh dikisaran Rp30 miliar.

Achmad Bunyamin yang akrab dipanggil Pak Nyam ini menyampaikan, resiko perbankan relatif terjaga yang tercermin dari rasio “non performing loan” (NPL) atau kredit macet masih berkisar pada angka 2-4 persen dalam beberapa tahun terakhir dan di akhir triwulan II/2017 rasio NPL bank tercatat sebesar 2,5 persen (Rp751,01 miliar) menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yakni sebesar 2,79 persen (Rp699,43 miliar).

“Penurunan rasio NPL lebih disebabkan oleh pertumbuhan nominal kredit yang masih lebih besar dibanding peningkatan nominal NPL,” tuturnya. (ta/sal)

 

Check Also

Pertumbuhan Ekonomi Hadapi Empat Tantangan

PERTUMBUHAN ekonomi nasional saat ini menghadapi empat tantangan besar. Karena itu, diperlukan kolaborasi antar pemangku …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *