Home / PENDIDIKAN / Dukung Kemampuan Ekonomi Kader Posyandu dan Pencegahan Stunting, Polije Dorong Pengembangan Diversifikasi Produk Kelor

Dukung Kemampuan Ekonomi Kader Posyandu dan Pencegahan Stunting, Polije Dorong Pengembangan Diversifikasi Produk Kelor

Probolinggo – Akademisi Politeknik Negeri Jember (Polije) Maya Weka Santi, Cherry Triwidiarto, dan Theo Mahiseta Syahniar mendampingi para kader di Posyandu Boegenville Kecamatan Kanigaran dalam mendukung kemampuan ekonomi kader posyandu dan percepatan pencegahan stunting di Kecamatan Kanigaran, Kelurahan Sukoharjo, Kota Probolinggo melalui pengembangan Diversifikasi produk kelor dan tanaman obat keluarga (Toga)

Maya Weka Santi selaku Ketua tim pengabdian menjelaskan, melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat program PKM dengan Sumber dana Direktorat Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan Kementrian Riset dan Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional 2020.

“Kami melakukan penyuluhan, pelatihan dan pendampingan kepada para kader Posyandu terkait dengan tata laksana stunting dan cara pencegahannya; melakukan inovasi pembuatan PMT dengan variasi bahan makanan berbentuk snack (seperti cookies emping kelor, pudding oreo cokelat kelor dan nugget ayam kelor) yang digemari balita sehingga pencegahan stunting dapat dilakukan secara efektif dan efisien; penyuluhan, pelatihan dan pendampingan kepada ibu-ibu kader untuk membudidayakan TOGA dengan memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumah serta pengembangan aspek wirausahanya,” kata Maya Weka Santi di Probolinggo, Jumat.

Menurutnya, salah satu masalah gizi yang banyak terjadi pada balita dan menjadi fokus program nasional adalah stunting, kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Berdasarkan data profil Dinas Kesehatan Kota Probolinggo Tahun 2017 masih ditemukan balita mengalami gizi buruk sebanyak 27 balita. Kecamatan Kanigaran merupakan salah satu Kecamatan di Kota Probolinggo yang memiliki jumlah balita gizi buruk tertinggi sebanyak 10 balita (37 persen). Salah satu Posyandu yang terdapat di kecamatan tersebut adalah Posyandu “Boegenville” RW IV Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.

Theo Mahiseta Syahniar selaku anggota tim menambahkan, bahwa Pemberian Makanan Tambahan (PMT) selama ini Posyandu Boegenville mengalami kesulitan dalam pengolahan PMT karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki (baik biaya maupun sumber daya manusia). Sejak pertama berdiri hingga sekarang Posyandu Boegenville belum memiliki produk olahan PMT dengan memanfaatkan potensi tanaman sekitar karena para kader tidak terbekali oleh kemampuan bagaimana mengolah PMT menggunakan bahan lokal yang ada di lingkungannya. Mereka jarang mengikuti kegiatan pelatihan dan seminar/ workshop terutama terkait pengolahan PMT karena harus membayar mahal.

“Produktivitas ibu-ibu kader Posyandu dalam hal kewirausahaan dan pemasaran produk PMT juga masih kurang,” ujar Theo.

Sementara itu Cherry Triwidiarto menambahkan, upaya budidaya bahan dasar pembuatan PMT (seperti kelor atau sayuran lain) yang dapat dilakukan melalui penanaman di pekarangan rumah, misalnya Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) belum terlaksana sama sekali sehingga belum optimalnya fungsi Posyandu terkait dengan kegiatan pengembangan dalam pemanfaatan TOGA. Hal tersebut dapat menunjukkan bahwa belum terciptanya manajemen Posyandu yang sehat dan terpadu.

“Oleh karena itu, melalui kegiatan pengabdian PKM ini diharapkan akan dapat berkontibusi dalam mencegah terjadinya balita kurang gizi atau gizi buruk di Posyandu Boegenville melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu dalam memberikan konseling dan penyuluhan tetang gizi dan kesehatan kepada masyarakat, dan kemampuan mendeteksi secara dini gangguan gizi pada balita terutama stunting; tercukupinya bahan makanan tambahan di Posyandu Boegenville yang tidak terlalu bergantung pada pemberian dari pemerintah. Melalui pembuatan produk PMT secara mandiri dan penanaman taman toga diharapkan akan ada income/ pendapatan dari hasil wirausaha dari para kader sebagai modal dalam pengelolaan Posyandu,” terang Cherry.

Winarti selaku pengurus Posyandu Boegenville mengapresisasi kegiatan tersebut. Ia mengungkapkan, bahwa kegiatan penyuluhan, pelatihan dan pendampingan dalam Pengembangan Diversifikasi Produk Kelor dalam Mendukung Kemampuan Ekonomi Kader Posyandu dan Percepatan Pencegahan sangat bermanfaat sekali.

“Hal tersebut menjadikan para kader sangat antusias dalam mengikuti program ini dan berharap agar program ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan dengan berbagai bidang pengembangan misalnya dalam pembuatan diversifikasi produk toga, sebagai produk tambahan selain PMT berbahan dasar kelor,” pungkasnya.

Bagikan Ke:

Check Also

Manfaatkan Limbah Pertanian, Polije Dukung Penerapan Teknologi Pembuatan Asap Cair yang Multifungsi

– Sebagai media pengenalan jiwa ecopreneurship di Pondok Pesantren Ibnu Katsir Desa Kemuning Lor Arjasa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *