Home / BERITA UTAMA / Habib Ali Al Hamid, Ketua GP Ansor Jember yang Mati Ditembak PKI

Habib Ali Al Hamid, Ketua GP Ansor Jember yang Mati Ditembak PKI

Al Habib Ali bin Abdullah Al Hamid / jemberpost

Setiap tahun di penghujung bulan September kita selalu diingatkan tentang pemberontakan PKI dengan aksi yang dikenal dengan gerakan 30 September / PKI. Gerakan PKI membunuh tokoh tokoh yang menentangnya tak hanya di Jakarta, tapi juga dilakukan di daerah-daerah termasuk di Jember.

Al Habib Ali bin Abdullah Al Hamid masih keponakan Habib Sholeh Tanggul, Jember. Beliau meninggal secara syahid di usia muda, sekitar 32 tahun, setelah diculik dan dieksekusi mati oleh kawanan PKI di kawasan Hutan Gumitir Jember-Jawa Timur tepatnya di dekat jalan raya perbatasan Jember-Banyuwangi pada pertengahan tahun 1965. Hutan itu jadi saksi bisu kekejaman PKI kepada para ulama dan tokoh pergerakan.

Setelah ditembak mati, jasad Habib Ali Al hamid pertama kali ditemukan oleh perempuan paruh baya yang sedang mencari kayu bakar. Perempuan itu sambil berlari memberitahu suami dan warga lain di sekitar hutan.

Habib Ali Al Hamid pada waktu itu adalah Ketua GP Ansor Jember. Tragedi pembunuhan bermula dari kunjungan seorang tamu dirumahnya di Tanggul yang memberitahukan kalau jamaah dan anggota serta santri beliau, saat itu tengah ditangkap dan diamankan di kantor kepolisian setempat.

Mendengar kabar mengejutkan tersebut, Habib Ali langsung berkemas hendak menuju kantor kepolisian untuk memastikan kebenaran informasinya, karena memang saat itu situasi negara sedang tidak menentu. Tidak aman dan tidak kondusif.

Sebelum berangkat, ada tamu lagi yang menjemput Habib Ali dengan  mobil jeep tentara dari Kesatuan Pari Kesit Tanggul dibilang mau ada pertemuan dengan muspika dan Kodim. Seperti diketahui, sekitar 90 persen anggota Kesatuan Pari Kesit Tanggul sudah terafiliasi dengan PKI, setelah tragedi G30S PKI,  kesatuan tersebut bubar karena anggotanya banyak yang lari. Dan periode berikutnya namanya berubah menjadi Batalyon Macan Kumbang.

Di tengah perjalanan, ternyata Habib Ali diculik oleh gerombolan PKI, Habib Ali tak sendirian, didalam jeep tersebut sudah ada tokoh PNI bernama Achmad,  ada juga Said Basrahil (Said ini salah tangkap, yang dicari sebenarnya adalah kakaknya yang bernama Salim Basrahil Tokoh Muhammadiyah) dan  Tokoh pergerakan Petinggi Sahron, mereka lalu diseret ke Gunung Gumitir. Tamu tersebut ternyata adalah suruhan PKI.

Dalam perjalanan, disekitar Kalisat, Said loncat dari mobil dan berusaha lari, namun gagal dan ditembak mati. Sesampai dilokasi yang telah ditentukan yakni sekitar Gunung Gumitir Tokoh PNI Achmad dan Petinggi Sahron ditembak mati, Sementara  peluru yang dihujamkan oleh PKI tidak mempan menembus dada sang Habib. Habib Ali ternyata memiliki karomah kebal senjata.

Tim eksekutor mengancam Habib Ali, yang isinya “Jika pelurunya tidak tembus, maka istri, anak dan semua keluarganya akan dibantai habis oleh PKI”. Habib Ali akhirnya hanya tersenyum dan menyerah, bersedia ikhlash dieksekusi mati.

Sebelum ditembak, Habib Ali mohon ijin untuk melaksanakan ibadah shalat sunnah dan berdoa. Usai shalat, Habib memasrahkan dirinya ditembak demi menyelamatkan anggota, santri dan keluarganya. Atas kehendak Allah, peluru akhirnya tembus dan Habib Ali Alhamid wafat dalam keadaan syahid di tangan PKI.

Riwayat pembunuhan ini menjadi gamblang dan terang sejak ada seorang laki-laki tua yang ziarah ke makam Habib Ali pada awal tahun 2000-an. Ia menangis sejadi-jadinya disana. Ia datang ke makam untuk meminta ampunan dan mohon maaf  kepada habib dan seluruh keluarganya karena telah menembak mati sang habib.

Ia datang ziarah, setelah merasakan kalau hidupnya tidak tenang dan dirundung penyesalan tanpa akhir. Kepada keluarga, Ia menceritakan kronologi tragedi tersebut diatas dari awal hingga akhir. Keterangan yang didapatkan menyebutkan, kalau laki-laki itu adalah kesatuan Pari Kesit yang tak seideologi dengan PKI dan terpaksa menuruti perintah PKI menembak Habib Ali.

Saat Ia mengekseskusi Habib Ali, katanya, telinga kiri laki-laki itu sudah ditodong senapan oleh anggota PKI. Jika dia tidak menembak Habib, maka peluru di senapan yang ditelinganya tersebut akan segera menyasar kepalanya sendiri. Karena takut atas ancaman tersebut, terpaksa dia menembak Habib Ali. (Salim Umar BSA dari berbagai sumber)

Check Also

Polije Kembangkan Teknologi Kompos Limbah Ternak di Jember

Jember-Permasalahan yang dialami oleh kelompok ternak UD Gumukmas Multifarm Jember adalah banyaknya limbah kotoran domba …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *