Home / OPINI / Medsos Mengancam Keutuhan Keluarga Muslim

Medsos Mengancam Keutuhan Keluarga Muslim

Oleh: Sania Nabila Afifah

Komunitas Muslimah Rindu Jannah

Semakin terasa dampak negatif era digital saat ini. Kecanggihan tak selamanya membawa kebaikan, namun sebaliknya memberi pengaruh buruk jika tidak diimbangi dengan ilmu dan iman. Apalagi di zaman yang serba bebas seperti saat ini. Masyarakat bebas mengakses segala hal yang ada di dunia maya. Kecanggihan HP dengan aplikasi seperti FB, WA, IG, dan yang lainnya memudahkan interaksi di antara individu. Inilah awal penyebab terjerumusnya manusia ke dalam kemaksiatan, lantas bisa menimbulkan terjadinya perselisihan hingga perceraian.

Dilansir dari RadarJember.id – Pengaruh media sosial (medsos) memang tak terbendung. Bahkan, sampai menyebabkan hubungan rumah tangga retak. Fakta di Lumajang cukup parah. Ada ratusan istri yang memilih menjanda dengan menggugat cerai suaminya karena pengaruh medsos. Perjodohan usia dini juga ditemukan jadi pemicu perceraian.

Lebih parah lagi adalah penyebab dari medsos. Media yang kebanyakan menggunakan smartphone ini jadi biang kerok perceraian di Lumajang. Diketahui dari 722 perselisihan dan pertengkaran terus-menerus dalam rumah tangga disebabkan karena medsos. (Selengkapnya lihat grafis).

Kondisi itu terjadi dalam kurun waktu antara Januari sampai Mei 2019 ini. Jumlah laporan yang masuk mencapai 1.425 perkara. Hampir separuh kasus cerai dari tahun 2019 kemarin baik itu talak maupun gugat dalam setiap bulannya bisa sampai ratusan.

Menurut informasi yang di himpun Radarjember.id ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perceraian. Di antaranya seperti ekonomi dan perselisihan dan pertengkaran terus-menerus. Dari sekian laporan data yang masuk, perselisihan dan pertengkaran terus-menerus menempati urutan tertinggi.

Menurut Teguh Susanto SH MH, panitera muda hukum Pengadilan Agama Lumajang mengatakan, angka perceraian akibat faktor perselisihan dan pertengkaran terus-menerus di sinyalir dari pengaruh medsos. “Angka perceraian yang paling banyak dari pengaruh medsos,” katanya ketika ditemui di kantornya, kemarin.

Tingginya angka perceraian adalah ancaman nyata bagi keluarga Muslim yang saat ini marak terjadi. Yang mana pemicu paling berbahaya adalah medsos. Di era digitalisasi saat ini sebagai jalan terjadinya interaksi dengan mudah dan bebas berkomunikasi tanpa adanya batasan, kontrol, baik individu, keluarga maupun negara.

Pergaulan yang bebas tanpa batasan syariah memicu terjadinya penyelewengan antara salah satu dari pasangan suami istri. Hal tersebut disebabkan minimnya ilmu pengetahuan tentang aturan Islam yang sebenarnya membatasi gerak setiap individu dengan sistem pergaulan. Yang mengatur interaksi antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan umum dan khusus. Itu dari segi ilmu agama yang seharusnya semua masyarakat umum miliki untuk dijadikan pegangan hidup dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Sedangkan ilmu umum yang didapatkan dari sekolah kurang memberikan pengaruh terhadap individu masyarakat. Hingga masyarakat tidak bisa memilah-milah mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang halal dan mana yang haram. Bayangkan saja saat ini pendidikan Agama Islam hanya bisa didapatkan di sekolah dalam sepekan hanya dua jam. Apakah mampu untuk mencetak setiap individu masyarakat yang berakhlakul karimah dan bertakwa?. Serta bisa menata kehidupannya sesuai dengan apa yang telah Allah titahkan?

Karena selain ilmu, modal utama yang harus dimiliki oleh masyarakat saat ini adalah keimanan. Hanya dengan bekal iman dan takwa kepada Allah SWT pasti setiap pasangan suami isteri dalam mengharungi bahtera keluarganya akan mampu menghadapi ancaman yang mungkin akan terjadi.

Menjalin komunikasi yang baik antar suami istri, saling menerima kelebihan dan kekurangan antara keduanya. Sama-sama tahu hak dan kewajipan masing-masing serta melaksana kan apa yang telah menjadi hak dan kewajipan keduanya yang telah Allah tetap kan baginya. Agar tidak terjadi perselisihan yang menimbulkan pertengkaran hingga berakhir dengan perceraian.

Selain itu yang lebih utama keduanya mengetahui apa tujuan menikah. Sebab kebanyakan masyarakat saat ini tidak memahami tujuan utama dalam pernikahan. Karena pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan tidak boleh dipermainkan. Menikah bukan hanya sebatas memenuhi kebutuhan seksual semata, tetapi pernikahan adalah bentuk dari ibadah kepada Allah dan sebagian dari menjalankan separuh agama. Jadi seharusnya sebelum menikah masyarakat sudah punya tujuan dan rencana yang matang, dibekali ilmu pengetahuan tentang pernikahan dan keluarga. Tentunya, hal ini yang lebih wajib memberikan pembinaan terhadap masyarakat utamanya adalah keluarga dan juga negara.

Kemudian ekonomi tak lepas dari pemicu perceraian. Karena ekonomi adalah salah satu yang berhubungan dengan kebutuhan keluarga yang harus terpenuhi dalam bentuk nafkah. Baik itu pemenuhan sandang, pangan dan papan dalam keluarga, dan pelaku utama ekonomi adalah suami. Suami adalah pemimpin dalam rumah tangga yang wajib meriayah anggota keluarganya dengan memberikan nafkah yang baik dan halal. Ekonomi adalah tiang keutuhan rumah tangga. Jika melihat karakteristik masyarakat saat ini adalah materialis. Terkadang semua diukur dengan materi. Namun sayangnya kondisi saat ini sulit bagi kaum laki-laki untuk mensejahterakan keluarga dengan ekonomi yang mapan.

Faktanya banyak sekali para suami yang tidak bekerja, apalagi di daerah pedesaan. Walaupun bekerja itu pun tidak akan mampu mencukupi atau hanya bekerja musiman. Yang penghasilannya tidak seberapa dibandingkan dengan pengeluaran. Yang mana saat ini kebutuhan hidup yang harus dipenuhi setiap keluarga sangatlah tinggi. Dengan kondisi ekonomi yang sulit seperti saat ini dan ladang pekerjaan hanya terbatas bagi kaum laki-laki. Mau tidak mau terkadang para suami atau istri rela meninggalkan keluarga untuk mencari nafkah di luar pulau atau bahkan menjadi TKI atau si isteri juga rela menjadi TKW demi keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam kondisi seperti ini rentan sekali terjadi perceraian. Karena antara kedua pasangan suami istri tidak lagi berada dalam satu rumah. Saling berjauhan yang ada nantinya malah mencari pasangan lain atau selingkuh, untuk menyalurkan naluri seksualnya masing-masing. Hal seperti ini marak terjadi dikalangan masyarakat saat ini secara khusus di desa dan secara umum di kalangan masyarakat.

Dan bagaimana dengan pernikahan dini? , pernikahan dini sebenarnya tidak menjadi pemicu yang berbahaya. Jika iman, ilmu, dan ekonomi semua terpenuhi pada setiap anggota keluarga, insya Allah hal tersebut tidak akan menjadi pemicu gagalnya bangunan keluarga. Sebab Rasulullah sendiri sebagai teladan bagi umat telah mencontohkan bagaimana Beliau menikahi gadis belia iaitu Ummul Mukninin ‘Aisyah ra. Menikah dini adalah hal yang sah bagi siapa saja yang mau dan siap segalanya.

Peran Islam dalam Keluarga

Islam sebagai solusi karena Islam adalah agama yang sempurna. Islam mengatur urusan manusia mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali dengan syariahnya. Karena Islam diturunkan tidak lain adalah untuk mengatur. Mengatur hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dan hubungan manusia dengan manusia yang lainnya.

Dan saat ini peran Islam dalam mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lainnya, terkait dengan ekonomi, pendidikan, sosial, politik dalam dan luar negeri dengan aturan Islam yang diambil dari alquran dan assunnah.

Dalam sistem sosial Islam mengatur hubungan pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan umum dan khusus. Islam mengatur interaksi antara laki-laki dan perempuan khususnya dalam menjaga kehormatan perempuan serta melindungi masyarakat dari akhlak tercela dan perilaku hina. Aturan seperti ini hanya ada dalam Islam yang menjunjung tinggi budi pekerti dan perilaku mulia. Islam melarang adanya khalwat (bersepi-sepi) yaitu berkumpulnya laki-laki dan perempuan disuatu tempat maupun hanya lewat chating di Hp. Islam juga melarang ikhtilat atau campur baur antara laki-laki dan perempuan. Islam hanya membolehkan bertemunya laki-laki dan perempuan  atau terjadi interaksi dalam masalah mu’amalah seperti jual-beli, menuntut ilmu, belajar- mengajar dan pekerjaan yang benar-benar membutuhkan adanya interaksi antara laki-laki dan wanita. Para wanita juga dujawibkan menutup aurat jika keluar rumah dengan menggunakan kerudung dan jilbab atau gamis.

Islam juga mengatur masalah ekonomi. Agar setiap kepala keluarga bisa memberikan nafkag kepada keluarganya, maka peran negara adalah menyediakan lapangan pekerjaan bagi kaum laki-laki. Dalam Islam memberikan pelayanan seperti menjamin kebutuhan dasar manusia yaitu sandang, pangan, dan papan terhadap masyarakat adalah kewajiban bagi negara sebagai bentuk pelayanan. Sehingga kehidupan masyarakat terjamin.

Negara juga mengatur media hingga tidak menjadi sarana terjadinya kemaksiyan. Bahkan Islam menjadikan media sosial sebagai sarana untuk membina masyarakat, agar terbentuk masyarakat yang Islami.

Iman, ilmu, dan ekonomi semua dibutuhkan bagi setiap individu dan semuanya tak lepas daripada peran negara sebagai pelayan umat.

Wallahu a’lam bis showab.

Check Also

Jaga Momentum Pertumbuhan, BI Jember Dorong Ekonomi Halal

OUTLET donat di Jalan Letjen Suprapto, Kebonsari, Jember, itu tidak terlalu besar. Ciri khas produk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *