Home / BERITA UTAMA / Miliki Potensi Besar, Finansial Teknologi Justru Banyak Dikuasai Asing

Miliki Potensi Besar, Finansial Teknologi Justru Banyak Dikuasai Asing

Anggota DPRRI Muhammad Nur Purnamasidi dalam seminar nasional di Jember

Jember- Perkembangan teknologi telah merubah sebagian besar kehidupan manusia, termasuk di dunia bisnis. Saat ini juga sudah bermunculan berbagai produk finansial teknologi (Fintech) yang ditawarkan kepada masyarakat, untuk mempermudah akses keuangan.

Di Indonesia sendiri, setidaknya ada 60 perusahaan yang bergerak di sektor fin tech. “Saat ini sudah ada sekitar 60 pelaku fin tech yang terdaftar di Indonesia. Namun yang sudah berijin baru satu perusahaan saja, sementara yang lain belum berijin alias ilegal,” terang Anggota Komisi XI DPR RI dapil Jember Lumajang HM Nur Purnamasidi saat Seminar Nasional ‘Platform OJK dalam Pemberdayaan UKM di Area Industri 4.0’ Jumat (9/11/2018) sore di Hotel Panorama Jember.

Berkembang pesatnya perusahaan fin tech tersebut salah satunya dikarenakan pangsa pasar yang cukup potensial. “Saat ini ada sekitar 59,3 juta unit UMKM. Tapi sayangnya hanya sekitar 29 persen saja yang sudah bisa mengakses pinjaman modal. Selebihnya masih kesulitan,” terang Purnamasidi.

UMKM kesulitan mengakses pinjaman modal di lembaga jasa keuangan konvensional karena rumitnya persyaratan yang harus dipenuhi.

“Contohnya, saya punya binaan UMKM di bangsalsari. Mereka memproduksi kerupuk ikan dengan perputaran uang 7 juta perhari dan sanggup mensuplai kebutuhan di sejumlah daerah. Untuk mengembangkan usahanya mereka sudah mengajukan KUR sejak 2014, tapi sampai sekarang belum bisa karena tidak ada jaminan yang digunakan sebagai agunan,” ungkap Purnamasidi.

Berbeda dengan LJK konvensional, fin tech justru memberi kemudahan akses keuangan bagi para pelaku usaha. “Jadi fin tech menawarkan pinjaman modal dengan persyaratan yang tidak serumit LJK konvensional. Tidak heran jika kemudian pada 2017 perputaran uang di fin tech mencapai 2,5 Triliun rupiah,” ujarnya.

Kendati demikian, Purnamasidi amat menyayangkan karena sejauh ini perusahaan-perusahaan fin tech masih didominasi oleh investor asing. Hal tersebut berakibat keuntungan dari perputaran uang di sektor fin tech banyak di bawa keluar Indonesia.

“Saat ini masih didominasi asing, khususnya Tiongkok. Meski nama perusahaannya menggunakan nama Indonesia tapi sebenarnya asing. Akibatnya, tingkat suku bunga yang ditetapkan jauh lebih besar dari LJK konvensional,” sesalnya.

Oleh sebab itulah, Purnamasidi berharap Otoritas Jasa Keuangan untuk bisa lebih mendorong LJK konvensional agar juga bergerak di sektor fin tech. “Kita dorong OJK terus mengembangkan  fin tech untuk kemudahan akses keuangan UMKM, tapi suku bunga yang ditetapkan juga terjangkau,” imbuhnya.

Kepala Sub bagian Pengawas Perbankan 2 OJK Jember Handi menyampaikan, fin tech merupakan hal baru di sektor keuangan yang memberikan kemudahan akses keuangan bagi masyarakat. “Melalui fin tech, masyarakat cukup menggunakan teknologi untuk mengakses keuangan. Tidak harus datang ke tempat yang memberi pinjaman,” ujarnya.

Hanya saja karena fin tech berbasis pada platform yang mempertemukan antara peminjam dan pemodal, maka hukum ekonomi yang akan berlaku.

“Ketika permintaan banyak, maka secara otomatis pemodal akan menetapkan bunga yang tinggi. Inilah yang kemudian bunga di fin tech dirasa jauh lebih besar dibandingkan LJK konvensional,” terangnya.

Untuk itulah, OJK saat ini tengah merumuskan regulasi yang tepat, agar fin tech bisa berkembang pesat tetapi juga terjangkau oleh masyarakat khususnya bagi para pelaku UMKM. (riq/sal)

Bagikan Ke:

Check Also

Tidak Becus Kerja, Faida Dapat Sanksi dari Gubernur Khofifah

Jember – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa resmi menjatuhkan sanksi kepada Bupati Jember Faida. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *