Home / OPINI / Pemutarbalikan Fakta dan Rasa Malu

Pemutarbalikan Fakta dan Rasa Malu

Oleh: Salim Umar
Insting dasar yang merasuk dan menjadi bagian keseharian serta dilakukan berkali-kali adalah kebiasaan, Kebiasaan yang dilakukan berulang ini menjadi Karakter.  Entah bagaimana, kini “memutarbalikan fakta” menjadi karakter atau trend pejabat untuk menangkal serbuan pertanyaan atau menutupi kebohongan publiknya.

Kebohongan publik secara umum diartikan sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya yang diungkapkan kepada publik.

Rupanya, kecenderungan menyimpang dengan memutar balikkan fakta pelan-pelan banyak menginfeksi orang.

Secara tidak sadar, mulai banyak yang terjangkiti dan celakanya yang terkena justru Pejabat dan yang  jadi korban selalu orang awam. Banyak sekali contoh yang dilakukan pejabat dan jadi pemberitaan media.

Orang yang berpengetahuan akan mudah mengidentifikasi ucapan tersebut, namun orang awam bisa jadi ada yang terfitnah.

Memutar balikkan kata-kata adalah sunnahnya kaum Yahudi.

Firman Allah dalam Al-Qur’an

“mereka mengubah kalimat-kalimat dari tempatnya” (Qs. Al-Maidah Ayat 13).

Kita harus waspada, jika ada pejabat atau  tokoh yang dikagumi yang sering di dengarkan ucapannya namun memiliki kecenderungan hobi memutar balikkan fakta, Segera saja ditinggalkan, Ganti panutan. Agar kita tidak salah jalan.

Selain media mainstream, media sosial memberi ruang yang sangat luas bagi siapa saja untuk mengemukakan pendapat. Bahkan kebohongan pejabat bisa diunggah di medsos saat itu juga.

Sehingga pejabat yang memutar balikkan fakta akan mudah diketahui kesalahannya dan dinilai masyarakatnya.

Namun ironisnya jika sudah menjadi karakter, biasanya rasa malu sudah tidak ada.

Malu adalah salah satu bentuk emosi manusia. Malu memiliki arti sebuah emosi atau kondisi  yang dialami manusia akibat sebuah tindakan yang dilakukannya sebelumnya, dan kemudian ingin ditutupinya. Penyandang rasa malu secara alami ingin menyembunyikan diri dari orang lain karena perasaan tidak nyaman jika perbuatannya diketahui oleh orang lain.

Namun yang banyak kita saksikan justru sebaliknya. Pejabat sudah tak ada rasa malu lagi, walau memutarbalikan fakta yang dilakukan tersebut diketahui masyarakat. Mengapa itu bisa terjadi ? Mengapa tak ada rasa malu lagi ? Sebab memutar balikkan fakta atau berbohong di depan publik sudah menjadi karakter. Hal itu berbahaya buat masyarakat, akan timbul fitnah dan saling curiga diantara mereka.

Bagikan Ke:

Check Also

Bangun Ekosistem Digital; Inovasi Perusahaan Pembiayaan di Era Industri 4.0

Oleh: Hari Setiawan TEKNOLOGI yang berkembang pesat menyebabkan business model baru bermunculan. Business model yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *