Home / OPINI / Pengorbanan Rakyat Demi Demokrasi

Pengorbanan Rakyat Demi Demokrasi

Oleh: Novia Roziah (Blogger Muslimah)

Pesta demokrasi telah usai di gelari. Meski belum final siapakah yang akan memimpin Indonesia lima tahun mendatang. Dibalik gelaran pesta Demokrasi kemarin, ternyata menyisakan kisah pilu dan duka. Bukan saja aroma kecurangan yang demikian kental terasa, kisah duka karena proses pemilu yang panjang terus berdatangan.

Di Jember seorang pengawas tempat pemungutan suara (PTPS) Desa sruni, kecamatan jenggawah, Dewi Lutfiatun, mengalami keguguran. Wanita ini keguguran saat proses pengawasan pemilu 2019.

“Dewi merupakan petugas PTPS 10 desa Sruni, mengalami keguguran janin berusia tiga minggu,” kata anggota Bawaslu Kabupaten jember, Devi Aulia R, selasa, 23 April 2019. Devi menuturkan pengawas TPS itu mengalami pendarahan sejak penghitungan suara pada rabu, 17 April 2019 tengah malam, “Pukul 24.00 WIB, itu sudah ada flek. Paginya diperiksakan ke klinik dan masih pendarahan,” Dari hasil pemeriksaan medis, dokter menyatakan bahwa Dewi Lutfiana mengalami keguguran karena kelelahan. Wanita muda itupun harus mendapatkan penanganan medis.

Selain Dewi, ditempat lain ada lima PTPS yang juga mengalami kelelahan dan kondisinya drop. Dua petugas PTPS di kecamatan Jenggawah, satu orang pengawas tingkat kelurahan di Kecamatan Kaliwates, satu orang staf Panwas Kecamatan Arjasa, dan satu orang anggota Panwas Kecamatan Wuluhan. “Ada yang opname, ada yang harus diinfus dirumah juga ada yang mendapat suntikan dari dokter tiap 12 jam” imbuh Devi (liputan6.com).

Di tingkat nasional, data jumlah kelompok petugas pemungutan suara (KPPS) yang meninggal semakin bertambah. Komisioner KPU Evi Novida Ginting Manik menuturkan kepada wartawan “Jumlah bertambah anggota wafat 272 dan sakit 1878” (27/4/2019)detiknews.com

Pengorbanan Simbol Harapan

Begitu banyak kasus kelelahan yang berujung kematian pada gelaran pemilu kali ini. Hal ini sangat memprihatinkan. Disatu sisi kita menjadi tersadar bahwa, demi Indonesia yang lebih baik rakyat rela berkorban. Bahkan nyawa mereka pun turut dipertaruhkan. Disisi lain, timbul pertanyaan akankah pengorbanan rakyat ini sebanding dengan perubahan yang di impikan?

Jawabannya tentu tidak bisa dengan mudah dilontarkan. Jika benar pemilu kali ini mampu membawa perubahan baik bagi Indonesia , mengapa kejadian buruk seperti kecurangan, bahkan korban jiwa yang malah disuguhkan?. Hal ini yang harusnya kita ambil pelajaran dari gelaran pemilu lima tahunan ini. Pemilu menjadi salah satu event paling dinanti masyarakat dalam sistem demokrasi, kenapa justru menyakiti.

Gelisah dengan Demokrasi

Jargon demokrasi bahwa semua dari rakyat, oleh rakyat, dan semua untuk rakyat, sesungguhnya tidak pernah benar-benar terbukti. Pesta demokrasi sendiri memakan anggaran Rp 24,8 trilliun. “Tahun ini untuk pilkada Rp16 triliun dan tahun depan Rp24,8 triliun. Ini termasuk persiapan yang sekarang sudah dilakukan dan tahun depan,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani sebagaimana dikutip di Jakarta, Jumat (17/8/2018).

Namun begitu besarnya anggaran pemilu berbanding terbalik dengan hasil yang diperoleh. Indonesia makin carut marut. Pemilu kisruh, petugas pemilu banyak menjadi korban. Rakyat semakin menderita. Demokrasi tidak terbukti memberikan perubahan yang lebih baik.

Kegelisahan demokrasi telah lama diutarakan oleh para penganut demokrasi itu sendiri. John Adam (mantan presiden AS ke II) pernah menulis : Remember, democracy never last long. Its soon wastes, exhaust, and murder itself. There never was a democracy yet that did not commit suicide. (ingatlah, demokrasi tidak akan bertahan lama. Ia akan segera terbuang, melemah dan membunuh dirinya sendiri, demokrasi pasti akan bunuh diri.

Mari Berbesar Hati

Demokrasi merupakan sistem buatan manusia yang telah cacat sejak dilahirkan. Sudah begitu banyak korban berjatuhan selama sistem ini diterapkan. Tidak sedikit juga, penganut demokrasi yang sinis dengan keberhasilan demokrasi membawa perubahan.

Memang terjadi perubahan, hanya saja perubahan yang terjadi adalah perubahan fisik. Bukan perubahan yang hakiki. Sehingga tak heran, meski telah berkali-kali pesta demokrasi di gelar. Indonesia bukan menjadi lebih baik, namun sebaliknya semakin terpuruk. Sehingga, pengorbanan rakayat demi demokrasi seakan tak berarti.

Alangkah baiknya, jika kita mau berbesar hati menerima kegagalan demokrasi. Kemudian mencari alternatif lain yang terbukti mampu menghadirkan perubahan yang hakiki. Tengoklah Islam, dalam fakta sejarah terbukti selama 14 abad lamanya, sistem islam mampu menghadirkan kesejahteraan yang hakiki. Kesejahteraan yang tidak hanya dinikmati segelintir orang berdasi, namun kesejahteraan yang dinikmati semua lini. Karena Islam rahmatan lil ‘alamin. Wallahua’lam bisshowab

Check Also

TMMD, Antara Pembangunan dan Tangis Bahagia Masyarakat Miskin

Oleh: Salim Umar TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) adalah salah satu wujud Bhakti TNI di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *