Home / PENDIDIKAN / Polije Bantu Petani Mandiri dalam Pengaplikasian Pengendalian Hama Terpadu

Polije Bantu Petani Mandiri dalam Pengaplikasian Pengendalian Hama Terpadu

Jember-  Persistensi Hama merupakan kegiatan pengabdian masyarakat yang mengusung Tema “Pemanfaatan tanaman Refugia sebagai sistem pengendali hama padi”.  Tim Pengabdian masyarakat Politeknik Negeri Jember, Rudi Wardana SPd, MSi, Iqbal Erdiansyah SP.MP dan Sekar Utami Putri SP,MSc menerapkan sistem “Edu-Agro protection” pada kelompok tani Suren Jaya 1 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember.

Iqbal Erdiansyah menguraikan, tahun 2017 produktivitas padi kecamatan Ledokombo mencapai 50,76 kw/hektar, data ini menunjukan masih rendahnya produksi padi pada wilayah tersebut. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian memiliki program “Upaya Khusus (UPSUS) (2015-2017)” dengan fokus tiga komoditas yakni padi, jagung dan kedelai. “Upaya yang dilakukan kementerian pertanian bukan hanya meningkatkan luas tanam tapi juga meningkatkan produktivitas daerah-daerah sentra pangan,” ujarnya.

Sistem “Edu-agroprotection” mampu menjadi stimulus bagi para kelompok tani pada kecamatan ledokombo untuk peran serta dalam kesuksesan UPSUS 2015-2017. Sistem yang dilakukan adalah melakukan sosialisasi tanaman refugia, pengenalan OPT padi dan serangga rekan petani, dan pendampingan penanaman refugia pada tanaman padi.

Menurut Rudi Wardana, tanaman refugia ini merupakan suatu pengendalian OPT pada suatu lahan budidaya karena berperan sebagai tanaman perangkap dan sebagai habitat musuh alami (serangga rekan petani).

“Semakin rapatnya suatu tanaman refugia mampu meningkatkan serangga rekan petani yang berperan predator dan parasitoid bagi hama padi,” kata Rudi Wardana.

Tanaman refugia ini merupakan tanaman bunga seperti Zinnia sp (bunga kertas), bunga kenikir, bunga pacar air, dan bunga wijen. Sistem ini mengedukasikan petani untuk lebih bersahabat dengan lingkungan yaitu memperhatikan pengaplikasian pestisida berlebihan untuk mengendalikan serangan hama padi. Petani akan paham dalam pengelompokan dan pengidentifikasian serangga pada lahan dengan melihat gambar serangga pada buku saku yang diberikan.

Sementara itu, Sekar Utami Putri memaparkan, Hama utama padi seperti wereng (coklat, hijau dan putih) dan walang sangit dapat diturunkan populasinya dengan adanya predator (laba-laba, kumbang koksi, tomket, dan lain-lain) dan parasitoid (Apanteles spp.).

“Populasi hama yang rendah mampu menjadi kunci keberhasilan suatu produktivitas lahan. Hal ini disebabkan OPT utama padi mengambil hasil fotosintat dan berkembang biak pada lahan padi sehingga mampu menurunkan hasil,” terangnya.

Program Pengabdian Masyarakat ini diharapkan membantu petani mandiri dalam pengaplikasian hama terpadu yang memperhatikan keseimbangan ekosistem. (red)

Check Also

Roadshow Honda DBL 2019, MPM Sosialisasi Kampanye Keselamatan Berkendara

Surabaya- Dalam rangka terus menguatkan aspek-aspek positif pada generasi muda sehingga menjadi generasi yang berkarakter, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *