Home / BERITA UTAMA / Polije Dampingi Kelompok Tani Labu Agung Tegalsari Banyuwangi

Polije Dampingi Kelompok Tani Labu Agung Tegalsari Banyuwangi

Banyuwangi- Akademisi Politeknik Negeri Jember (Polije) Anna Mardina, Mulia Winarsya dan Supriyadi mendampingi ibu-ibu kelompok tani Labu Agung di Desa Tegalsari, Kecamatan Tegalsari Banyuwangi untuk pengenalan dan pendampingan pembuatan aneka olahan labu kuning bagi kelompok tani benih labu kuning yang sangat potensial dikembangkan menjadi oleh-oleh khas daerah di Banyuwangi.

“Melalui kegiatan pengabdian Program Kemitraan Masyarakat DRPM 2019, Kami melakukan pengenalan dan pendampingan pembuatan aneka olahan labu kuning bagi kelompok tani benih labu kuning yang sangat potensial dikembangkan menjadi oleh-oleh khas daerah di Banyuwangi,” kata Anna Mardina selaku ketua tim pengabdian di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Selain itu, pihaknya juga melaksanakan kegiatan pendampingan pelatihan managemen pemasaran dan pelatihan teknologi pengemasan kepada kelompok petani benih labu kuning. Agar produk olahan dapat terlihat lebih menarik dan dapat dipasarkan guna manambah pendapatan masyarakat.

Menurutnya, Desa Tegalrejo, Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi adalah salah satu daerah yang menjadi sentra penghasil labu kuning. Para petani di daerah tersebut pada umumnya hanya mengambil bijinya saja untuk tujuan perbenihan sedangkan daging buah labu kuning belum di manfaatkan secara optimal.

Setiap kali panen, petani menghasilkan limbah daging buah labu kuning sebanyak 852,6 – 1705,2 ton. Apabila daging buah labu kuning dijual dengan harga RP. 500 maka akan dihasilkan pendapatan sebesar Rp. 426.300.000 – 852.600.000,- per tahun namun selalu dibuang tanpa guna dan hanya sebagai pakan ternak saja, padahal daging buah memiliki potensi untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomis tinggi.

Mulia Winarsya selaku anggota tim menambahkan, bahwa dilihat dari segi nilai gizinya, labu kuning memiliki zat antioksidan yaitu betakaroten yang sangat tinggi, vitamin c, zat besi dan kalium. Oleh karena itu, ini menjadi potensi untuk dapat memanfaatkan daging labu kuning tersebut. Upaya peningkatan nilai ekonomis daging buah labu kuning dapat dilakukan dengan pembuatan produk olahan yang beraneka ragam seperti cookies, bolu kukus, roti tawar, foodbar, eggroll dan minuman jelly drink.

“Namun, pengetahuan dan keterampilan petani dalam mengolah daging buah labu kuning masih sangat terbatas. Oleh karena itu diperlukan suatu pengetahuan dan teknologi tepat guna untuk mengolah limbah daging buah labu kuning menjadi aneka olahan labu kuning agar petani meningkat dari segi pengetahuan dan keterampilannya,” terangnya.

Sementara itu Supriyadi menambahkan, bahwa setelah dapat mengolah daging buah labu kuning, petani benih labu kuning diharapkan juga akan dapat mengemas dengan design kemasan yang baik dan menarik serta dapat memasarkan produknya sehingga pendapatannya meningkat.

Sementara, Lia salah satu petani di kelompok tani Labu Agung mengungkapkan, pengenalan dan pendampingan pembuatan aneka olahan labu kuning bagi kelompok tani benih masing jarang sekali dilakukan padahal labu kuning sangat potensial dikembangkan menjadi oleh-oleh khas daerah di Banyuwangi.

“Hal tersebut menjadikan para ibu-ibu petani sangat antusias dalam mengikuti kegiatan pendampingan ini dan berharap agar kegiatan ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan,” pungkasnya.

Check Also

Polije Kembangkan Industri Kecil Roti

Jember- Usaha roti mempunyai prospek yang cerah di Indonesia, khususnya di kota Jember karena roti …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *