Home / BERITA UTAMA / Polije Dampingi Unit Usaha PP Al Ishlah, Produksi Tempe Dari Kedelai Lokal Berbasis Paten

Polije Dampingi Unit Usaha PP Al Ishlah, Produksi Tempe Dari Kedelai Lokal Berbasis Paten

Jember- Politeknik Negeri Jember (Polije) merupakan institusi vokasi terkemuka yang mengedepankan terapan hasil-hasil penelitian dan riset sebagai bentuk hilirisasi untuk membantu masalah yang dihadapi stake holder, baik industri dan masyarakat.

Salah satu KPI (Key Performance Indicator) atau indikator kinerja perguruan tinggi vokasional adalah jumlah inovasi yang telah diterapkan di industri dan masyarakat.

Banyak masalah yang ditemukan di mitra masyarakat UKM adalah di bidang industri makanan, tak terkecuali pada makanan sejuta umat yakni tempe. Tingginya harga kedelai impor AS menyebabkan tidak hanya terjadi penurunan omzet produksi di tingkat pengrajin, melainkan juga penurunan pada daya beli masyrakat. Intervensi program pendampingan untuk penggantian bahan baku tempe dari non kedelai, semisal koro dan jagung sebenarnya telah dilakukan, namun kurang mendapat sambutan di masyarakat yang telah terdogmatisasi bahwa tempe seharusnya adalah dari kedelai.

Penggunaan kedelai lokal yang berharga jauh lebih murah dari kedelai impor AS untuk pembuatan tempe dengan metode konvensional telah dilakukan, namun hasilnya tidak sebaik dengan kedelai impor. Hal ini disebabkan kualitas mutu bahan baku lokal yang tidsk seragam serta kemampuan kerja ragi yang tidak optimal. Disisi lain pengrajin mengeluhkan penggunaan air yang lebih banyak untuk proses penempean dari kedelai lokal dibandingkan impor dan usia produk yang lebih singkat. Sebenarnya kedelai impor sendiri masih menjadi perdebatan panjang di kalangan peneliti terkait isu transgenik yang berhubungan dengan keamanan pangan.

Tim Polije, Dr. Yossi Wibisono, Agus Santoso, MP serta Dr. Titik Budiati menginisiasi pengrajin tempe di Al Ishlah Jenggawah Jember untuk menggunakan kedelai lokal. Kegiatan pelatihan dan pembinaan ini didanai oleh Kemenristek Dikti melalui Program PKM (Program Kemitraan Masyarakat).

Yossi Wibisono menjelaskan, dalam kegiatan tersebut, Tim Polije menyerahkan peralatan untuk proses pembuatan tempe secara modern, seperti inkubator untuk perbanyakan ragi khusus, perlengkapan sensor (sensor cable thermometer, TDS tester), mesin pencuci kedelai, mesin pengupas kedelai (untuk pengembangan omzet) serta microwave digital untuk preparasi media bagi ragi. Serah terima tersebut dilakukan langsung di kediaman Pimpinan Unit Usaha PP Al Ishlah Jenggawah, tanggal 6 Agustus 2019.

“Introduksi peralatan tersebut diperlukan untuk intervensi proses kegiatan yang dilaksanakan dari pertengahan Juni hingga akhir September 2019. Pada kegiatan tersebut, para santri pondok dan tenaga luar dapat memahami rangkaian kerja yang menggunakan peralatan modern,” ujar Yossi.

Pimpinan PP Al Ishlah mengakui, bahwa dengan adaptasi menggunakan alat semisal pencuci kedelai, dapat menghemat waktu hingga 30 menit per 100 kg bahan dan tidak ada bahan baku yang terbuang, dan selain itu dapat menghemat penggunaan air, sehingga dengan demikian akan dapat mengurangi limbah air hasil industri tempe.

Adapun proses perbanyakan ragi menggunakan fermentor diserahkan pada santri terpilih dengan kesepakatan tidak menyebarluaskan inovasi tanpa sepengetahuan Tim PKM. Proses perbanyakan ragi sendiri menggunakan metode Wibisono yang telah dipatenkan.

“Kelebihan dari ragi yang digunakan tersebut adalah adanya kandungan bakteri asam laktat di dalam ragi yang dapat mempertahankan PH dalam kondisi asam, sehingga umur simpan produk lebih panjang, Kedepan terbuka peluang untuk penjualan ragi khusus tersebut, tentunya selepas memperoleh perijinan penjualan,” pungkas Yossi.

Check Also

Polije Kembangkan Industri Kecil Roti

Jember- Usaha roti mempunyai prospek yang cerah di Indonesia, khususnya di kota Jember karena roti …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *