Home / BERITA UTAMA / Polije Kembangkan Usaha Sari Kedelai Melalui Desiminasi Teknologi Food Grade di Banyuwangi

Polije Kembangkan Usaha Sari Kedelai Melalui Desiminasi Teknologi Food Grade di Banyuwangi

Banyuwangi – Akademisi Politeknik Negeri Jember (POLIJE) Mokhamad Fatoni, Michael Joko Wibowo, Budi Hariono, Rizza Wijaya dan Aulia Brilliantina mendampingi usaha sari kedelai yang dimiliki oleh Tun Zuhana Amini warga Desa Purwoagung Kecamatan Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi dalam desiminasi teknologi food grade untuk meningkatkan produksi dan menghasilkan produk sari kedelai yang aman konsumsi.

Permasalahan yang dihadapi mitra dari segi produksi ialah masih terbatasnya kapasitas produksi/hari yaitu 10 kg/hari bahan baku. Dengan adanya scale up produksi akan bertambah menjadi 30 kg/hari bahan baku. Proses produksi saat ini dilakukan secara sederhana. Proses pengemasan dilakukan dengan sistem dingin secara manual dengan cara mengambil sari kedele menggunakan gayung terbuat dari plastik untuk kemudian dimasukkan ke dalam kemasan gelas 220 ml. Hal ini menyebabkan produk tidak steril sehingga umur simpan tidak lama 2-3 hari sudah basi.

“Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat PKM 2019, Kami melakukan pengenalan dan pendampingan usaha disertai dengan desiminasi teknologi kategori food grade dalam pengolahan sari kedelai. Selain itu, Kami juga melaksankan kegiatan pendampingan pelatihan managemen berupa kontrol kualitas bahan baku dan kualitas produk (SOP produksi sari kedelai) dan penerapan system pemasaran on-line sehingga produk dapat  dipasarkan guna manambah pendapatan mitra,” kata M.Fatoni, Ketua tim pengabdian di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa.

Menurutnya, Industri sari kedele milik Ibu  Tun Zuhana Amini secara umum mempunyai permasalahan utama yaitu produk cepat mengalami kerusakan (tidak tahan lama) dan kapasitas produksi saat ini rendah (produksi 10 kg bahan baku/hari). Untuk menjaga keberlangsungan usaha, diperlukan adanya usaha mengatasi produk tidak tahan lama yang berdasarkan pengamatan di lapangan dikarenakan selama proses produksi dan pengemasan kurang higienis. Sedangkan untuk mengatasi rendahnya kapasitas produksi dilakukan melalui tahapan skale up peralatan dari kapasitas 10 kg menjadi 30 kg bahan baku/hari.

“Untuk mengoptimalkan hal di atas dilakukan bimbingan teknologi, pengurusan perijinan dari instansi terkait seperti PIRT dari Dinas Kesehatan,” ujarnya.

M.Joko Wibowo menambahkan, upaya mengatasi permasalahan produk tidak tahan lama adalah dengan mengaplikasikan peralatan proses produksi dari bahan food grade (ST 304) mulai dari proses penggilingan, pemasakan sari kedele, serta pengemasan melalui metode sterilisasi produk. Sedangkan upaya skale up dilakukan dengan penerapan peralatan penggiling burrmill dengan diameter 15 cm dari bahan Stainless steel, proses pemasakan bahan baku sistem water jacket metode steam (uap panas) serta peralatan pengemasan.

Dalam kegiatan pengabdian ini mitra diberikan peralatan berupa 1) panci sterilisasi dan kompor, (2) pemasak (steamer), (3) wadah penampung sari kedelai serta (4) wadah pengemas sari kedelai. Penerapan peralatan ini dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam produksi.

Budi Hariono selaku anggota tim menerangkan, keunggulan panci sterilisasi ini adalah bahan stainless steel ST 304 (food grade). Kedua, Thermostat untuk pengatur dan pengontrol suhu otomatis. Ketiga, hemat energi (gas LPG), hal ini dikarenakan bila suhu maksimal tercapai, api otomatis mengecil. Keempat, dirancang double jacket (2 pelapis isi air dan minyak) untuk penghantar panas supaya pemanasan produk tidak secara langsung. dan terakhir, mesin dirancang lokal design sehingga tetap menggerakkan industri dalam negeri.

Sementara itu, Rizza Wijaya mengatakan, dari segi solusi dalam mengatasi masalah pada aspek managemennya diperoleh luaran kegiatan berupa tambahan keuntungan menjadi 2-3 kali lipat sehingga secara tidak langsung meningkatkan kesejahteraan mitra. Dampak sosial adalah mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak (3-5 orang dalam kurun 1 Tahun). Aulia B menambahkan, Prospek pasar sangat terbuka hal ini dapat dilihat dari parameter cash flow sebagai berikut: (a) NPV 18% = Rp 34.119.610; (b) B/C = 1,46; PBP pada bulan ke 9.

Sedangkan kompetitor produk sari kedelai masih belum banyak ditemukan sehingga usaha ini sangat berpotensi untuk dipertahankan dan dikembangkan.

Tun Zuhana Amini selaku pemilik usaha sangat antusias dengan adanya kegiatan ini, beliau menuturkan, jika permasalahan usaha yang dihadapi selama ini dapat terbantu dan juga berharap agar kegiatan ini dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Check Also

Polije Tingkatkan Potensi Bahasa Inggris Siswa Madrasah Aliyah As-Shofa Melalui Aplikasi Duolingo

Jember – Dosen Politeknik Negeri Jember (POLIJE) Vigo Dewangga, Michael Joko Wibowo, dan Nila Susanti …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *