Home / BERITA UTAMA / Resahkan Warga, Ribuan Massa Tuntut Pemerintah Bekukan STDI

Resahkan Warga, Ribuan Massa Tuntut Pemerintah Bekukan STDI

Aksi massa saat di depan Pemkab Jember
Suasana Hearing di DPRD Jember, Perwakilan massa diterima anggota Dewan Havidi dan Alfian.

Jember–  Ribuan massa yang mayoritas warga Nahdliyin melakukan aksi unjuk rasa di kantor Pemkab dan DPRD Jember, Jumat (3/8/2018). Dalam orasinya mereka menuntut agar pemerintah daerah baik Pemkab Jember maupun DPRD Jember untuk tegas dan membekukan segala aktivitas Yayasan Imam Syafii, Mahad As-Salaf dan yayasan lain yang sealiran karena lembaga-lembaga tersebut dianggap meresahkan ketenangan dan ketentraman masyarakat. 

Pasalnya, lembaga tersebut diduga mendiskreditkan kyai dan menuduh solawatan dan maulid nabi sebagai zindik dalam buletin yang diterbitkannya.

Ribuan massa ini mengawali aksi dengan sholat Jumat di Masjid Jami Al Baitul Amien. Selanjutnya Massa bergerak memadati halaman Pemkab Jember yakni diawali dengan sholawat dan dilanjutkan dengan orasi kebangsaan dan tausyiah oleh sejumlah tokoh agama.

Massa berikutnya melakukan long march menuju ke gedung DPRD Jember. Yang menarik, saat long march ini, ratusan massa ini disambut oleh puluhan masyarakat di sekitar Jembatan Semanggi Jember. Masyarakat membagikan air minum dan kue untuk para pengunjuk rasa yang turun ke jalan.

Menurut koordinator aksi Gus Baiquni Purnomo, aksi ini dilakukan agar Pemkab dan DPRD Jember untuk tegas. “Kami minta pemerintah daerah tegas untuk membekukan sementara semua kegiatan yang meresahkan masyarakat,” jelas Gus Baiqun.

Salah satunya terkait adanya buletin yang disebarkan kepada masyarakat umum yang menyudutkan kyai.

“Masak kyai disamakan dengan dukun, mereka menyebut jika mendatangi kyai akan mengurangi amal,” tegasnya. Hal inilah yang dianggap sangat menghina kyai.

Padahal menurutnya, kyai mulai zaman kemerdekaan hingga saat ini sekalipun menjadi pilar bagi bangsa.

“Pendiri bangsa ini sebagian besar peran kyai. Pendiri NU dan Muhammadiyah juga dari kalangan kyai,” tegasnya. Oleh karena itu, jika kemudian ada pihak yang menjelekkan kyai, maka sama saja membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa.

Belum lagi juga adanya statement dalam buletin yang menyudutkan dan menyebut pihak yang merayakan maulid dan sholawat sebagai zindik. Zindik adalah tuduhan orang yang mengaku Islam untuk menutupi kekafirannya.

“Padahal maulidan ini sudah menjadi agenda bagi kegiatan nasional. Bahkan hingga hari ini negara mengakui maulid nabi sebagai libur nasional,” tegasnya.

Makanya wajar jika kemudian pihaknya mengadakan aksi Tolak Penjajahan Ideologi (TOPI) bangsa ini untuk meminta pemerintah tegas menyikapinya.

“Makanya kami minta untuk STDI dibekukan sementara. Panggil mereka dan semua tokoh agama agar mengkaji penuh masalah ini,” terangnya.

Jika tidak, dirinya khawatir nantinya akan ada aksi massa lainnya yang mungkin malah akan menimbulkan perpecahan bahkan kerusuhan di Jember.

Sebelumnya terkait hal itu, Ketua Yayasan Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah atau STDI Imam Syafii Jember, Muhammad Arifin, membantah isu yang menyebut STDI Imam Syafi’i tertutup dan intoleran.

Arifin menjelaskan pada sejumlah wartawan, sejak beberapa tahun lalu, Yayasan sudah membuat kebijakan yang membolehkan para mahasiswa tinggal di luar Asrama. Dengan demikian, kemanfaatan STDI Jember dari segi ekonomi terhadap masyarakat, terlihat dengan berdirinya sejumlah rumah kos, dan warung makan di Lingkungan Gladak Pakem. Arifin juga memastikan, tidak satupun mahasiswanya yang berusaha mempengaruhi paham keislaman yang sudah diyakini masyarakat sekitar STDI.

Sementara, soal Buletin STDI Imam Syafi’i yang menyebut kedudukan kiai sama dengan dukun, merupakan buletin yang terbit tahun 2013 lalu, dan sudah tidak ada lagi persoalan usai dimediasi di Kantor Bangkesbangpol tahun 2013 lalu.(sal)

Bagikan Ke:

Check Also

Dulu Berangkat dari Partai, Kini Faida Tuding Perlu Milyaran untuk Rekom

– Faida Naikkan Honornya Sendiri Lebih dari 300 Persen Jember- Video beredar bupati Faida, yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *