Home / BERITA UTAMA / Tourism Artificial Intelligence; Mengokohkan Pariwisata di Era Digital

Tourism Artificial Intelligence; Mengokohkan Pariwisata di Era Digital

Oleh: Hari Setiawan*

PARIWISATA diprediksi akan menjadi sektor yang menjanjikan di masa depan. Sektor ini tidak mengenal krisis. Dominasi masa depan yang dihuni para generasi milenial membuat pariwisata menjadi sektor andalan di banyak negara.

ThinkDigitalTravel,lembaga think thank turisme, menyebutkan, generasi milenial merupakan kelompok yang menganggap dirinya memiliki hak yang hakiki sejak lahir. Yaitu, hak melakukan perjalanan atau traveling. Tidak heran, generasi milenial ini menjadi salah satu pilar dari industri turisme modern.

Hasil penelitian lembaga riset industri pariwisata Phocuswright menegaskan asumsi tersebut. Menurut Phocuswright, generasi milenial merupakan kelompok yang paling sering melakukan perjalanan di antara kelompok umur lainnya. Mereka diperkirakan secara bertahap akan menghabiskan lebih banyak dana untuk layanan wisata dibandingkan dengan kelompok usia lainnya selama 12 bulan ke depan. Pada 2020, generasi ini akan mewakili setengah dari semua pelaku perjalanan yang ada.

Riset lain yang dilakukan Rumah123, mengungkapkan, generasi milenial lebih memilih melancong daripada membeli rumah. Pengalaman hidup menjadi intangible assets yang tidak kalah penting daripada rumah atau properti lainnya.

Bagi Indonesia, sektor pariwisata terus mengalami pertumbuhan yang positif. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Indonesia pada 2018 menyebutkan, neraca pembayaran sektor pariwisata mengalami surplus sejak 2011.

Mengutip data World Tourism Organization, belanja wisata mancanegara di dalam negeri mencapai USD 12,5 miliar. Sedangkan belanja wisatawan domestik, berdasar data BPS pada 2015, mencapai Rp 224,6 triliun.

World Travel and Tourism Council dengan menggunakan metodologi 2008 TSA: RMF (Tourism Satellite Account: Recommended Methodological Framework) melakukan estimasi dampak pariwisata terhadap perekonomi Indonesia.

Hasilnya, kontribusi langsung pariwisata terhadap PDB pada 2017 adalah Rp 259.583 miliar (1,9 persen dari PDB). Hal ini diukur dari kegiatan ekonomi yang dihasilkan oleh industri pariwisata, seperti hotel, agen perjalanan, maskapai penerbangan, restoran dan hiburan, serta transportasi penumpang lainnya. Kemudian, kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB (termasuk dampak lebih luas pada investasi, rantai pasok, dan dampak pendapatan) sebesar 5,8 persen dari PDB.

Sedangkan buku saku Kementerian Pariwisata 2016 menyebutkan, kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB adalah 9 persen.Sedangkan BPS dalam kajiannya menyebutkan, kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB hanya 4 persen. Perbedaan angka-angka tersebut terjadi karena perbedaan definisi, cakupan sektor pariwisata, dan tidak terpilahnya data sektor pariwisata, serta ketersediaan data terkait pariwisata.

Berapa pun kontribusi pariwisata terhadap PDB, angkanya terus tumbuh dari tahun ke tahun. Estimasi tren masa depan dengan berkembangnya teknologi digital dan makin mapannya generasi milenial, sektor pariwisata sangat menjanjikan untuk menjadi salah satu tulang punggung perekonomian nasional. Apalagi, Presiden Joko Widodo telah menjadikan pariwisata sebagai salah satu pilar pertumbuhan ekonomi nasional.

Tantangan Pariwisata Masa Depan

Sektor pariwisata memang menjanjikan prospek yang cerah di masa depan. Tetapi, bagi Indonesia masih ada sejumlah tantangan yang mesti diselesaikan. Dibandingkan negara-negara lain, kontribusi sektor pariwisata Indonesia terhadap perekonomian nasional masih kecil. Kontribusi langsung sektor pariwisata dan perjalanan terhadap PDB, Indonesia (5,2 persen) masih di bawah rata-rata Asia Tenggara (5,9 persen).

Demikian pula dengan pertumbuhan investasi sektor pariwisata. Indonesia baru mencapai 6,6 persen pada 2017, masih di bawah Vietnam yang realisasi investasi pariwisatanya mencapai 7 persen. Dari total investasi yang masuk, 77 persen masih tergolong sebagai penanaman modal asing (PMA). Tiga daerah sebagai tujuan realisasi investasi pariwisata terbesar adalah DKI Jakarta, Bali, dan Jawa Barat.

Tantangan lain yang tidak kalah substansial adalah kualitas kunjungan wisatawan, terutama wisatawan mancanegara. Secara kuantitas, kunjungan wisatawan mancanegara terus naik sejak 2015 sampai 2017. Pada 2015, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 9,7 juta orang, 2016 menjadi 11,5 juta, dan 2017 kembali naik menjadi 14 juta.

Tetapi, tingginya kunjungan itu tidak berkorelasi positif dengan belanja (spending) wisatawan mancanegara. Pokja Industri Pariwisata Nasional Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) mengungkapkan, belanja wisatawan mancanegara yang awalnya USD 1.300 per visit menjadi USD 1.000 per visit. Ini menandakan secara kualitas, kunjungan wisatawan mancanegara mengalami penurunan.

Mengenai sebab turunnya kualitas kunjungan wisatawan mancanegara, bisa disebabkan beberapa kemungkinan. Misalnya, pelayanan dan fasilitas yang dinilai belum memadai, atraksi wisata yang itu-itu saja, paket tour yang monoton, serta kurang masif dan kreatifnya promosi pariwisata.

Tantangan lain di masa depan adalah kemampuan pemerintah dan pelaku usaha pariwisata dalam melakukan perubahan. Perilaku wisatawan, khususnya wisatawan milenial, telah berubah menjadi digital travellers. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyebutkan, 70 persen travellers melakukan search and share di media digital. Sebanyak 50 persen inbound travellers adalah milenial yang digital savvy. Kalangan ini pasarnya diperkirakan terus membesar dengan influencing power yang besar. Big and loud.

Semua tantangan tersebut sejatinya tidak hanya dialami oleh pariwisata tanah air. Seluruh negara di dunia pun tengah menghadapi tantangan serupa. Yang membedakan adalah kemampuan dalam merespons dan beradaptasi dengan perubahan tersebut. Dengan karakter independent customers, pemerintah dan pelaku pariwisata harus jeli membaca perubahan perilaku wistawan.

Bangun Ekosistem Pariwisata Digital

Untuk merespons perubahan perilaku wisatawan itu, pemerintah dan para pelaku usaha pariwisata harus mampu menciptakan ekosistem digital. Ekosistem digital bukan sekadar soal komputer dan internet. Tetapi, lebih pada kemampuan membangun relasi intensif melalui mobile conectivity. Sebab, mobile smartphone hari ini telah mengubah cara bertindak miliaran orang di muka bumi.

Ada tiga elemen penting dalam ekosistem digital di era mobile. Ketiganya adalah konsumen, partner (publisher atau developer), dan pengiklan. Teknologi tidak hanya menciptakan produk, melainkan membangun keterhubungan ketiga elemen tersebut.

Dalam bisnis pariwisata, konsumen adalah wisatawan. Yang bertindak sebagai partner adalah vendor penyedia layanan. Di sini ada Google yang memiliki layanan multiplatforms, seperti search engine, maps, Android, Play Store, Youtube, dan Gmail. Bagi konsumen, semua platform yang disediakan Google tersebut menjadi kebutuhan primer yang harus ada saat travelling. Sedangkan yang menjadi pengiklan adalah pemerintah dan para penyedia layanan pariwisata. Pemerintah selaku regulator berfungsi mendorong promosi pariwisata nasional. Sedangkan pelaku pariwisata, seperti hotel, restoran, pengelola destinasi wisata, airlines, dan layanan jasa lainnya, harus mampu meningkatkan pelayanannya.

Dengan memahami konsep trihelix di atas, sebagaimana Google membangun ekosistem bisnisnya, ada beberapa strategi yang harus dilakukan pemerintah dan para pelaku pariwisata di Indonesia.

Pertama, pemerintah harus segera memiliki roadmap Tourism 4.0 untuk meningkatkan promosi dan pembangunan pariwisata nasional yang sesuai dengan tuntutan era mobile. Di dalamnya termasuk mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul di sektor pariwisata, yang menjadi salah satu fokus pembangunan Presiden Joko Widodo di periode kedua.

Kedua, pemerintah perlu memperluas jangkauan internet di destinasi-destinasi wisata baru. Terutama destinasi wisata yang menekankan petualangan atau pengalaman baru. Wisatawan milenial tidak hanya mementingkan tourism journey, tetapi juga menuntut digital experience. Artinya, pengalaman yang baru dirasakan di destinasi wisata harus bisa segera diunggah atau di-live streaming di media sosial. Karena, 70 persen pengguna media sosial mengunggah foto atau video mereka saat travelling.

Ketiga, iklim inovasi di bidang pengembangan aplikasi pariwisata harus terus dikembangkan oleh pemerintah. Data Deloitte Consulting Southeast Asia 2019 meyebutkan, 40 persen global tour dan booking activity dilakukan secara online. Karena itu, pemerintah harus memberikan apresiasi dan insentif bagi start up yang berhasil menciptakan platform digital di sektor pariwisata.

Keempat, dalam waktu yang sama, pemerintah perlu mendorong tumbuhnya investasi di sektor pariwisata. Terutama, investasi di 10 Bali Baru yang tengah didorong oleh Kemenpar. Dengan demikian, investasi tidak hanya berkutat di DKI Jakarta (Kepulauan Seribu), Bali, dan Jawa Barat, melainkan bisa tumbuh pula di kawasan Danau Toba (Sumatera Utara), Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Tanjung Lesung (Banten), Borobudur (Jawa Tengah), Bromo Tengger Semeru (Jawa Timur), Mandalika (NTB), Labuan Bajo (NTT), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), dan Morotai (Maluku Utara). Bila investasi tumbuh di 10 Bali Baru, maka Indonesia akan memiliki 10 kawasan baru sebagai penarik pariwisata internasional. Pada gilirannya akan menggerakkan ekonomi daerah dan membuka lapangan kerja.

Kelima, pemerintah bersama para pelaku pariwisata ke depan harus mulai mengembangkan artificial intelligence (AI). Di masa depan, AI adalah kunci untuk memenangkan persaingan. Dengan AI, semua data digital bisa diolah untuk menganalisis tren konsumen, perubahan perilaku dan minat konsumen, serta apa yang sedang dibutuhkan konsumen. Bagi pemerintah, AI sangat penting dalam pengambilan kebijakan dan regulasi. Sedangkan bagi pelaku pariwisata, AI sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pelayanan dan pengambilan keputusan bisnis.

Tidak bisa tidak, bila AI menjadi instrumen penting dalam memenangkan kompetisi pariwisata dunia di era digital, pemerintah dan pelaku usaha harus bisa membangun kerjasama dengan pengembang start up pariwisata. Mulai dari pengembang aplikasi perjalanan, akomodasi, fintech, perbankan, dan jasa lainnya.

Presiden Joko Widodo menegaskan, dalam jabatannya di periode kedua, pemerintahnya fokus pada lima hal. Yaitu, (1) pembangunan infrastruktur, (2) SDM unggul, (3) permudah investasi, (4) reformasi birokrasi, dan (5) APBN yang tepat sasaran. Kelima hal ini amat dibutuhkan pariwisata Indonesia agar menjadi pengungkit ekonomi di masa depan. (*)

* Penulis adalah redaktur pelaksana jemberpost.net

Check Also

Polije Dampingi Alumni Sebagai Mitra Dalam UKM Kripik Pisang ‘Musae Chips’

Jember-Politeknik Negeri Jember adalah Perguruan Tinggi Vokasi yang selalu continue dalam penerapan tugas Tri Darma …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *